Penulis berpendapat bahwa Iran telah mencapai kemajuan teknologi di bidang rudal dan drone, di mana mereka berhasil mengembangkan drone “Shahed 136”, yang menjadi senjata efektif dalam menghadapi Amerika Serikat dan Israel, yang menunjukkan ketidakcukupan keunggulan militer AS di atas kertas untuk menghadapi Iran.
Kebuntuan strategis
Timokhin menambahkan pasukan AS terus meraih kemenangan taktis, seperti serangan udara terhadap Angkatan Laut Iran dan sistem pertahanannya, namun Iran berhasil menahan tekanan militer tersebut.
Meskipun Amerika Serikat unggul secara militer, Iran masih mampu melancarkan serangan yang menargetkan infrastruktur energi dan gas, sehingga meningkatkan tekanan psikologis terhadap Amerika Serikat.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Adapun terkait Israel, pihak Iran berusaha menumbuhkan rasa ketidakberdayaan dan keputusasaan di kalangan penduduk, peluncuran satu atau dua roket setiap hari mengganggu kehidupan normal, dan tampaknya serangan Israel tidak berhasil mengurangi jumlah roket secara signifikan, jelas pakar militer Timukhin.
Dia berpendapat bahwa Amerika Serikat saat ini berada dalam dilema strategis, di mana hanya tersisa dua pilihan yakni pertama, mundur dan mengakui kekalahan, sesuatu yang tampaknya tidak siap dilakukan oleh pemerintahan AS.
Pilihan kedua adalah eskalasi militer, yang tampak dalam bentuk sinyal-sinyal negosiasi, namun pada kenyataannya hanyalah cara untuk mengulur waktu dan menenangkan Iran.
Di tengah pilihan-pilihan yang terbatas ini, Amerika Serikat mungkin akan menemukan dirinya dalam situasi serupa dengan yang terjadi di Vietnam, di mana perang berubah menjadi konflik berkepanjangan tanpa hasil yang menentukan.
Ahli militer Rusia tersebut menjelaskan bahwa eskalasi militer yang berkelanjutan akan membebani ekonomi global secara signifikan, yang pada gilirannya meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Amerika Serikat.
Meskipun telah meraih kemenangan taktis, kemenangan strategis masih jauh, yang memperkuat kemampuan Iran untuk meraih kemenangan serupa dengan yang dicapai di Vietnam, menurut Timukhin.
