PERDEBATAN soal perlu-tidaknya Teheran membuat bom nuklir dilaporkan semakin keras di antara kalangan elite garis keras di Iran. Hal itu diungkap Reuters, Kamis (26/3/2026) mengutip beberapa sumber di Teheran.
Saat Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) saat ini mendominasi pengambilan keputusan terkait perang usai terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, dua sumber Reuters menyebut, opini garis keras soal pendekatan nuklir Iran mengalami peningkatan. Selama ini, Teheran konsisten membantah tudingan Barat, bahwa Republik Islam ingin membuat bom nuklir karena menurut fatwa Khamenei, bom nuklir dilarang dalam Islam.
Hingga saat ini, doktrin nuklir Iran belum berubah meski Khamenei sang pemilik fatwa telah wafat. Namun, menurut sumber Reuters, kalangan garis keras di level kepemimpinan Iran yang menginginkan adanya perubahan doktrin itu mulai berani bersuara.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Isu bom nuklir yang sebelumnya tabu, saat ini mulai dibahas di media-media bersamaan dengan desakan agar Iran keluar dari perjanjian nonproliferasi (NPT). Kantor Berita Tasnim contohnya, media yang berafiliasi dengan IRGC itu pada Kamis memublikasikan artikel yang menyatakan bahwa sudah saatnya Iran menarik diri dari NPT dan sambil fokus ke program nuklir dalam negeri.
Politisi garis keras Mohammad Javad Larijani, yang merupakan saudara kandung dari martir Ali Larjani dikutip oleh salah satu media juga mendesak agar Iran membekukan keanggotaannya di NPT.
“(Keanggotaan) NPT harus dibekukan. Kita harus membentuk sebuah komite untuk membahas apakah NPT berguna bagi kita atau tidak. Jika terbukti berguna, kita akan kembali menjadi anggota. Jika tidak, kita harus keluar,” kata Javad.
Pada awal bulan ini, salah satu stasiun televisi Iran menyiarkan sebuah segmen wawancara bersama komentator konservatif Nasser Torabi di mana saat itu dia mengeklaim tuntutan publik Iran. “Kita harus bertindak dalam rangka membuat sebuah bom nuklir. Antara kita membuatnya atau kita mendapatkannya.”
Iran pada Rabu (25/3/2026) menolak rencana Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan sementara perang sembari terus melancarkan serangan ke Israel dan negara-negara Teluk. Iran menolak 15 poin proposal gencatan senjata dari AS yang salah satu tuntutannya adalah terkait pelucutan total program nuklir Iran.
