Hingga baru-baru ini, Mossad sendiri menganggap memicu pemberontakan di Iran adalah hal yang tidak realistis, karena Yossi Cohen, mantan direktur Mossad sebelum Barnea, telah memangkas sumber daya yang dialokasikan untuk urusan ini hingga seminimal mungkin setelah menilai bahwa mustahil mengumpulkan jumlah orang yang diperlukan untuk turun ke jalan guna benar-benar mengancam kekuasaan “Ayatollah”, Namun, Barnea mengubah arah.
Dalam konteks ini, jurnalis Max Blumenthal mencatat “The New York Times pada dasarnya menegaskan bahwa Israel memainkan peran dalam memicu kerusuhan kekerasan yang menewaskan sekitar 3.000 orang di Iran antara 8 dan 9 Januari dengan tujuan menggulingkan rezim.”
Media yang turut berperan
Blumenthal mengatakan, “Jelas bagi Mossad bahwa kerusuhan tersebut dapat memicu tindakan militer dari pihak Trump, dan intelijen Israel hanya perlu meyakinkan presiden yang ‘kurang cerdas’—seperti yang digambarkan surat kabar tersebut—bahwa gelombang serangan yang ditargetkan akan memicu pemberontakan besar-besaran yang mampu menggulingkan Republik Islam secara instan.”
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Penulis menambahkan bahwa media Barat, termasuk The New York Times dan The Guardian, memainkan peran sentral dalam melegitimasi disinformasi Israel tersebut.
Mereka menarasikan kerusuhan kekerasan yang bertujuan menggulingkan rezim sebagai protes, disertai pembesaran jumlah korban, serta menyembunyikan fakta bahwa banyak di antaranya dibunuh oleh para pemberontak yang didukung Israel sendiri.
Penulis mengakhiri laporannya dengan mengutip pernyataan Blumenthal bahwa seluruh dunia media Barat, serta apa yang dikenal sebagai kompleks industri hak asasi manusia di Barat, telah dengan sengaja mendistorsi sifat sebenarnya dari kerusuhan tersebut.
Namun kini, setelah perang yang mereka bantu picu mulai berjalan buruk bagi Amerika Serikat dan Israel, media-media ini merasa bebas untuk mengungkap sebagian kecil kebenaran.
