SEBUAH laporan yang diterbitkan oleh situs web Italia “Inside Over” mengungkap kegagalan rencana intelijen yang rumit untuk menggulingkan rezim Iran dari dalam.
Apa yang awalnya tampak sebagai taruhan cepat pada ledakan internal berubah menjadi kesalahan strategis yang mahal, meskipun mendapat dukungan politik dan intelijen dari Amerika Serikat dan Israel.
Penulis Roberto Vivaldelli, dalam artikelnya di situs tersebut, dikutip Aljazeera, Kamis (26/3/2026), mengatakan dukungan Mossad terhadap protes anti-pemerintah Iran bukanlah rahasia sepenuhnya, karena akun resmi badan intelijen Israel dalam bahasa Persia telah secara terbuka menghasut penduduk selama berbulan-bulan untuk turun ke jalan.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Selain itu, pernyataan publik dari mantan pejabat AS, seperti mantan Direktur CIA Mike Pompeo, mengungkap adanya koordinasi antara Tel Aviv dan Washington untuk mendukung oposisi internal.
Namun, penyelidikan yang dipublikasikan The New York Times,yang didasarkan pada wawancara dengan lebih dari 12 pejabat saat ini dan mantan pejabat dari Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara lain, mengungkap gambaran lebih luas dan bersifat praktis lebih jelas.
Yaitu peran Mossad tidak terbatas pada dukungan media atau retorika, melainkan merencanakan secara rinci operasi terintegrasi yang bertujuan untuk menggulingkan rezim dalam kerangka strategi perang.
Rencana Barnea
Penulis menjelaskan bahwa kisah ini bermula pada pertengahan Januari, ketika Direktur Mossad David Barnea mendatangi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan sebuah rencana ambisius.
Rencana tersebut menurutnya akan memungkinkan badan intelijen Israel, pada hari-hari awal pecahnya pertempuran, untuk memicu oposisi Iran dan memicu kerusuhan serta aksi pemberontakan yang berpotensi menyebabkan runtuhnya rezim teokratis.
Barnea juga memaparkan usulan yang sama kepada pejabat tinggi di pemerintahan Presiden AS Donald Trump selama kunjungannya ke Washington.
Netanyahu menyetujui rencana tersebut, dan Trump pun menerimanya, meskipun ada keraguan di kalangan pimpinan AS, serta di beberapa lingkaran dalam lembaga Israel sendiri, terutama Badan Intelijen Militer (Aman).
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Rencana tersebut, yang kemudian terbukti gagal, didasarkan pada pembunuhan para pemimpin Iran pada jam-jam awal konflik, bersamaan dengan pelaksanaan serangan udara dan operasi intelijen yang bertujuan untuk mendorong pemberontakan rakyat yang luas.
