Kantor berita Jerman DPA melaporkan bahwa dua kapal kontainer besar yang terkait dengan perusahaan pelayaran milik negara China, COSCO, berusaha meninggalkan Teluk hari ini melalui Selat Hormuz sebelum tiba-tiba kembali ke dekat Iran.
Data pelacakan kapal yang dikumpulkan oleh Bloomberg News menunjukkan bahwa kedua kapal tersebut kembali ke dekat pulau Larak dan Qeshm di Iran, dekat pintu keluar Selat Hormuz, setelah mengubah sinyalnya dan menuju timur laut lepas pantai Dubai, mencatat bahwa ini adalah pertama kalinya kapal COSCO mencoba melewati Selat Hormuz.
Kantor berita Fars Iran melaporkan pada hari Kamis bahwa lebih dari 350 kapal tanker minyak dan gas sedang menunggu izin dari Teheran untuk melewati Selat Hormuz, dan mencatat bahwa Iran telah meminta kapal-kapal ini untuk mematikan sistem mereka dan terus menunggu.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Data sebelumnya dari Organisasi Maritim Internasional menunjukkan bahwa sekitar 20.000 pelaut di atas sekitar 3.200 kapal (tanker gas dan minyak serta kapal komersial) terdampar di sebelah barat Selat Hormuz sejak Teheran mengumumkan penutupannya, sementara setidaknya 21 kapal diserang, menjadi sasaran, atau melaporkan serangan sejak awal perang.
Badan Iran tersebut menyatakan bahwa kapal tanker minyak dan gas yang menunggu di Teluk Oman dan Teluk Arab meliputi 25 kapal tanker minyak raksasa, 200 kapal tanker minyak reguler, dan 70 kapal tanker gas alam.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan bahwa pemerintah Indonesia terus menjalin komunikasi secara intensif dengan pemerintah Iran untuk mengupayakan dua kapal tanker Pertamina keluar dari Selat Hormuz. Sementara itu, negara lain seperti Malaysia kini sudah mendapatkan lampu hijau agar kapalnya bisa melintasi selat tersebut.
“Memang tidak mudah bagi kita untuk melakukan upaya agar kapal kita keluar dari Selat Hormuz. Namun, komunikasi terus kita bangun,” kata Bahlil saat dijumpai di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian di Jakarta, Jumat (27/3/2026).
PT Pertamina (Persero) sebelumnya telah memastikan keselamatan awak kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) yang masih berada di Selat Hormuz, di tengah ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS). Di sisi lain, pada Rabu (4/3/2026), Bahlil juga memastikan bahwa terjebaknya dua kapal tersebut di Selat Hormuz tidak mengganggu ketahanan energi Indonesia karena Indonesia segera mencari alternatif energi di Amerika Serikat.
