Sempat Merosot, Harga Minyak Mentah Dunia Kembali Meroket

Ilustrasi: Harga minyak mentah dunia
Ilustrasi: Harga minyak mentah dunia
0 Komentar

MINYAK mentah dunia kembali naik hari ini, Kamis (26/3/2026) setelah sempat merosot hingga 2 persen pada perdagangan hari sebelumnya. Mengutip Reuters, Kontrak berjangka Brent naik 1,13 dolar Amerika Serikat (AS) atau 1,1 persen menjadi 103,35 dolar AS per barel pada pukul 00.51 GMT, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik 1,08 dolar AS atau 1,2 persen ke level 91,40 dolar AS per barel.

Penguatan harga minyak dipicu kekhawatiran atas kembali meningkatnya eskalasi di Timur Tengah usai Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Presiden AS Donald Trump akan menekan Iran lebih keras jika Teheran tidak mengakui bahwa negara tersebut telah “dikalahkan secara militer”.

“Optimisme terkait gencatan senjata telah memudar,” kata ekonom senior NLI Research Institute, Tsuyoshi Ueno, terkait pernyataan tersebut.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Ia menambahkan, syarat yang diajukan Washington tergolong tinggi, sehingga harga minyak masih berpotensi berfluktuasi, tergantung pada perkembangan negosiasi dan aksi militer kedua pihak.

Proposal 15 poin dari Trump, yang disampaikan melalui Pakistan, mencakup penghapusan stok uranium dengan tingkat pengayaan tinggi milik Iran, penghentian aktivitas pengayaan, pembatasan program rudal balistik, hingga penghentian dukungan terhadap sekutu regionalnya.

Dampak konflik ini terasa signifikan terhadap pasokan energi global. Pengiriman melalui Selat Hormuz—jalur yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia—hampir terhenti. Badan Energi Internasional menyebut kondisi ini sebagai salah satu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah terjadi.

Di sisi lain, dinamika pasar juga dipengaruhi langkah India yang membeli kargo pertama gas petroleum cair (LPG) dari Iran dalam beberapa tahun terakhir. Transaksi ini terjadi setelah AS sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan bahan bakar olahan Teheran, menurut sumber.

Dari Jepang, Perdana Menteri Sanae Takaichi meminta kepala IEA Fatih Birol untuk mengoordinasikan pelepasan tambahan cadangan minyak. Langkah ini diambil sebagai antisipasi terhadap konflik Timur Tengah yang berpotensi berkepanjangan.

Tekanan pada pasokan juga datang dari Irak, di mana produksi menurun seiring kapasitas tangki penyimpanan yang sudah mendekati batas kritis.

0 Komentar