SEKRETARIS Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres mengeluarkan peringatan keras bahwa serangan Amerika Serikat (AS)-Israel yang diarahkan ke Iran saat ini telah melampaui segala batas dan berada dalam kondisi “di luar kendali”.
Guterres menegaskan bahwa dunia kini menghadapi ancaman konfrontasi yang jauh lebih luas jika eskalasi militer tidak segera dihentikan.
Pernyataan tersebut disampaikan Guterres dalam konferensi pers di Markas Besar PBB, New York. Ia menyoroti dampak mengerikan yang ditimbulkan oleh konflik ini, mulai dari penderitaan manusia yang meningkat hingga guncangan ekonomi global yang semakin dalam.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Sudah saatnya berhenti menaiki tangga eskalasi dan mulai menaiki tangga diplomasi, serta kembali menghormati hukum internasional sepenuhnya,” tegas Guterres, dikutip dari Anadolu, Kamis, 26 Maret 2026.
Ancaman Ekonomi dan Penutupan Selat Hormuz
Guterres memberikan pesan khusus kepada Amerika Serikat dan Israel untuk segera mengakhiri perang mengingat jumlah korban sipil yang terus meroket. Di sisi lain, ia juga mendesak Iran untuk menghentikan serangan terhadap negara-negara Teluk yang bukan merupakan pihak dalam konflik tersebut.
Salah satu fokus utama PBB adalah dampak ekonomi akibat terganggunya lalu lintas pengiriman di Selat Hormuz. Jalur vital ini menangani sekitar 25% perdagangan minyak global, 20% gas alam cair (LNG), dan hampir 30% perdagangan pupuk dunia.
“Penutupan Selat Hormuz yang berkepanjangan mencekik pergerakan energi dan pupuk pada saat kritis dalam musim tanam global. Situasinya sudah terlalu jauh,” tambah Guterres.Lebanon Tidak Boleh Menjadi ‘Gaza Kedua’
Sekjen PBB juga menyoroti perluasan operasi militer Israel ke wilayah Lebanon. Ia mendesak Israel untuk menghentikan serangan yang berdampak buruk pada warga sipil di sana. Dengan tegas, Guterres menyatakan bahwa “Model Gaza” tidak boleh ditiru atau terulang di Lebanon.
Sebagai langkah konkret meredakan ketegangan, Guterres mengumumkan penunjukan diplomat kawakan asal Prancis, Jean Arnault, sebagai utusan pribadinya untuk memimpin upaya mediasi PBB terkait konflik ini dan dampaknya di Timur Tengah.
Kawasan Timur Tengah terus terguncang sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Hingga saat ini, agresi tersebut telah menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
