PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan opsi militer ekstrem untuk menduduki Pulau Kharg, yang merupakan pusat ekspor minyak utama Iran.
Langkah ini disebut-sebut sebagai rencana cadangan (Plan B) jika proses negosiasi dengan Teheran menemui jalan buntu.
Laporan yang dirilis oleh media Israel, Yedioth Ahronoth, menyebutkan bahwa Trump sangat berambisi untuk segera mengakhiri konflik di Timur Tengah. Namun, jika tekanan diplomatik tidak membuahkan hasil, pendudukan wilayah strategis tersebut menjadi opsi yang nyata.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
“Trump sangat ingin mengakhiri perang, dan jika itu gagal, dia akan merebut Pulau Kharg. Persiapan untuk skenario ini juga sedang berlangsung,” tulis laporan tersebut mengutip sumber internal Israel, dikutip dari Anadolu, Kamis, 26 Maret 2026.
Incar Jantung Ekonomi dan Produksi Militer
Pulau Kharg memiliki posisi yang sangat vital bagi stabilitas ekonomi Iran. Terletak sekitar 30 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia, pulau ini menjadi pintu keluar utama bagi komoditas minyak dan gas negara tersebut ke pasar global.
Langkah pendudukan ini selaras dengan strategi Israel yang berupaya menekan Iran hingga ke titik terendah. Militer Israel dilaporkan terus berupaya mencapai target guna melumpuhkan kemampuan produksi militer Iran secara keseluruhan.
Ketegangan bersenjata antara AS-Israel melawan Iran telah mencapai titik didih sejak 28 Februari lalu. Hingga saat ini, rangkaian serangan udara gabungan dilaporkan telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk sosok tertinggi di Teheran, Ayatollah Ali Khamenei.
Iran merespons agresi tersebut dengan melancarkan serangan balasan masif menggunakan pesawat tak berawak (drone) dan rudal. Serangan balasan ini tidak hanya menyasar Israel, tetapi juga pangkalan militer AS di Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk.
Konflik ini telah memicu guncangan hebat pada pasar global, terutama pada harga energi, serta menyebabkan gangguan serius pada jalur penerbangan internasional.
