Menurut Panetta, bukan hal sulit untuk memperhitungkan dampak pada Selat Hormuz apabila suatu pihak memutuskan perang dengan Iran. Masalah ini selalu menjadi topik pembahasan di setiap forum dewan keamanan, sehingga ia heran mengapa pemerintahan Trump tidak terpikirkan tentang ini.
“Bukan hal yang sulit untuk memahami bahwa jika Anda akan berperang dengan Iran, salah satu kerentanan terbesar adalah Selat Hormuz, dan itu dapat menciptakan krisis minyak yang sangat besar yang dapat mendorong harga bahan bakar melambung tinggi,” kata Panetta.
“Di setiap dewan keamanan nasional yang pernah saya ikuti, di mana kami membahas Iran, topik itu (Selat Hormuz) selalu muncul. Entah karena alasan tertentu, mereka tidak menganggap itu bisa jadi konsekuensi atau mereka mengira perang akan berakhir dengan cepat dan mereka tidak perlu khawatir tentang itu,” ujarnya.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Apa pun alasannya, Panetta percaya bahwa Trump dan pemerintahannya tak siap menghadapi kenyataan saat ini. Apalagi, jika mengingat kepribadian Trump yang cenderung bicara dan bertindak sesukanya.
“Apa pun itu, mereka tidak siap menghadapinya dan sekarang mereka menanggung akibatnya karena jika ada jalan keluar bagi Trump, itu adalah menyatakan kemenangan dan semuanya sudah berakhir dan kita telah berhasil mencapai semua target militer kita. Masalahnya adalah dia bisa menyatakan kemenangan sesuka hatinya, tapi jika dia tidak bisa mendapat gencatan senjata, semuanya percuma,” tutur Panetta.
“Dan dia tidak akan mendapat gencatan senjata selama Iran terus mengancamnya dengan Selat Hormuz.”
Masalah ini hari demi hari semakin serius. Kritik terus berdatangan, baik dari oposisi maupun pendukung Trump. Di tengah tekanan ini, sekutu-sekutu AS juga tak banyak membantu.
Sikap para sekutu ini sendiri dapat dimengerti karena hal itu buah dari pendekatan kasar Trump.
Trump berulang kali mengancam akan keluar dari NATO. Ia bahkan mengolok para anggota “pengecut” dan hanya “macan kertas” tanpa AS.
“Jika Anda merencanakan perang, bukan ide buruk untuk bicara dengan sekutu Anda. Aliansi penting untuk dapat mendukung segala jenis upaya militer. Kita telah mempelajari itu sejak lama, sejak Perang Dunia Dua. Tapi [Trump] mengambil pendekatan tak berperasaan terhadap aliansi dan sekarang tiba-tiba dia berada di posisi harus meminta bantuan sekutu, NATO, dan pihak lain yang semuanya jelas tidak dia perlakukan dengan baik selama masa kepresidenannya untuk mencoba membantunya keluar dari kesulitan,” ucap Panetta.
