Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik Iran

Saad al-Kaabi
Saad al-Kaabi
0 Komentar

CEO QatarEnergy Saad al-Kaabi mengungkapkan dirinya kerap mengingatkan Amerika Serikat (AS) soal bahaya besar terkait pasokan energi yang bakal dihadapi saat konflik Iran memanas. Hal ini mengacu pada fasilitas energi Iran yang menjadi target serangan AS dan Israel.

Pernyataan tersebut diungkapkan Kaabi dalam wawancara ekslusif kepada Reuters, dikutip Minggu (22/3).

“Mereka sadar akan ancaman itu, dan saya selalu mengingatkan mereka, hampir setiap hari, bahwa kita perlu memastikan adanya pengendalian terhadap fasilitas minyak dan gas,” ujar Kaabi.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Al-Kaabi yang juga Menteri Energi Qatar tersebut juga aktif mengingatkan para eksekutif sektor minyak dan gas, hingga mitra perusahaan sepertiExxon Mobil dan ConocoPhillips terkait bahaya tersebut.

“Saya selalu memperingatkan, berbicara dengan para eksekutif minyak dan gas yang bermitra dengan kami, berbicara dengan Menteri Energi AS, untuk memperingatkannya akan konsekuensi tersebut dan bahwa hal itu bisa merugikan kami,” katanya.

Terkait risiko dampak serangan ke Iran terhadap pasokan energi, ExxonMobil belum memberikan tanggapan. Adapun ConocoPhillips menyatakan akan tetap berkomitmen pada kemitraan jangka panjang.

“Kami tetap berkomitmen penuh pada kemitraan jangka panjang kami dan akan terus bekerja sama dengan QatarEnergy dalam jalur pemulihan,” kata juru bicara ConocoPhillips.

Di sisi lain, Departemen Energi AS menyerahkan masalah ini kepada Gedung Putih. Adapun juru bicara Gedung Putih Taylor Rogers mengungkapkan bahwa Presiden Donald Trump dan seluruh tim energi sadar akan risiko gangguan jangka pendek pada pasokan minyak dan gas, imbas serangan ke Iran.

Rogers juga mengklaim pihaknya sudah mengantisipasi kondisi tersebut.

Pernyataan Bos QatarEnergy muncul usai adanya serangan rudal Iran menghantam kompleks gas alam cair (LNG) Ras Laffan di Qatar, yang merupakan fasilitas gas alam cair terbesar di dunia. Serangan itu merusak infrastruktur penting dan mengganggu pasokan energi global.

Serangan tersebut mengakibatkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar hilang. Pemulihan diperkirakan bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, sehingga rencana ekspansi produksi gas negara itu juga ikut tertunda.

Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius

Gangguan ini berpotensi berdampak luas, mengingat Qatar merupakan salah satu pemasok utama gas untuk Eropa dan Asia. Jika pasokan terganggu lama, harga energi global bisa semakin naik.

0 Komentar