Pekan Ketiga Perang Amerika Serikat-Israel-Iran, Tujuan Trump Semakin Tak Jelas, Tekanan Besar Politik Ekonomi

Presiden Donald Trump (Foto: Saul Loeb/AFP melalui Getty Images)
Presiden Donald Trump (Foto: Saul Loeb/AFP melalui Getty Images)
0 Komentar

Strategis Partai Republik Dave Wilson mengatakan dampak ekonomi akan segera terasa bagi masyarakat.

“Seiring dampak ekonomi mulai terasa,” katanya, “orang-orang akan mulai berkata: ‘Mengapa saya harus membayar harga bensin tinggi lagi? … Mengapa Selat Hormuz sekarang menentukan apakah saya bisa berlibur bulan depan atau tidak?’”

Kesalahan Perhitungan

Sejak perang dimulai pada 28 Februari, sejumlah pejabat dalam pemerintahan Trump mulai menyadari bahwa konsekuensi konflik ini seharusnya dipetakan lebih matang sejak awal. Dua sumber yang mengetahui pemikiran internal Gedung Putih mengatakan kesadaran tersebut semakin berkembang seiring perang berlangsung.

Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran

Namun pejabat Gedung Putih pertama yang diwawancarai Reuters menolak pandangan itu. Ia menegaskan bahwa kampanye militer telah direncanakan secara menyeluruh dan dipersiapkan untuk berbagai kemungkinan.

Para analis menilai kesalahan terbesar Trump adalah memperkirakan secara keliru bagaimana Iran akan merespons konflik yang mereka anggap sebagai ancaman eksistensial.

Teheran membalas dengan meluncurkan rudal yang masih tersisa serta armada drone bersenjata untuk mengimbangi keunggulan militer lawannya. Iran juga menyerang negara-negara Teluk dan sebagian besar menutup Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Terlepas dari apakah risiko tersebut telah diprediksi sebelumnya, pemerintahan Trump dinilai belum mampu mengatasinya secara efektif.

“Mereka gagal memikirkan skenario-skenario kemungkinan di mana konflik dengan Iran bisa berjalan menyimpang, di mana situasi mungkin tidak berjalan sesuai rencana yang mereka susun,” kata John Bass, mantan duta besar Amerika Serikat yang pernah bertugas di Afghanistan dan Turki.

Seiring konflik berlarut-larut, tanda-tanda frustrasi Trump juga semakin terlihat, terutama terkait pengendalian narasi publik. Dalam beberapa hari terakhir ia menyerang media, bahkan melontarkan tuduhan tanpa bukti mengenai “treason” atau pengkhianatan terhadap laporan yang menurutnya merugikan upaya perang.

Menurut Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri di pemerintahan Obama yang kini memimpin konsultan strategi Situation Room di Washington, Trump terlihat kesulitan mengendalikan pemberitaan seperti sebelumnya.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

“Ia kesulitan mengendalikan siklus berita seperti yang biasa ia lakukan, karena ia masih belum bisa menjelaskan mengapa ia membawa negara ini ke perang dan apa langkah berikutnya,” kata Bruen. “Ia tampaknya telah kehilangan sentuhan dalam mengelola pesan.”

0 Komentar