Situasi tersebut membuat sebagian staf Gedung Putih menyarankan agar Trump segera mencari jalan keluar. Seorang sumber yang mengetahui diskusi internal mengatakan beberapa penasihat mendorong presiden menemukan jalan keluar cepat dengan membatasi ruang lingkup operasi militer. Namun belum jelas apakah saran itu cukup untuk mempengaruhi keputusan Trump.
Sebagian analis menilai sikap dingin para sekutu bukan hanya karena mereka enggan terseret dalam perang yang tidak mereka konsultasikan sebelumnya. Penolakan itu juga dianggap sebagai reaksi atas cara Trump meremehkan aliansi tradisional AS sejak kembali menjabat 14 bulan lalu.
Perbedaan pandangan juga mulai terlihat antara Washington dan Israel. Trump menyatakan bahwa ia tidak mengetahui sebelumnya tentang serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran. Namun pejabat Israel mengatakan serangan tersebut memang telah dikoordinasikan dengan Amerika Serikat.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Menurut para analis, Trump kini berada di persimpangan dalam operasi yang disebut Operation Epic Fury tanpa arah yang benar-benar jelas.
Salah satu opsi adalah meningkatkan ofensif militer AS, bahkan mungkin merebut pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg atau menempatkan pasukan di sepanjang pantai Iran untuk memburu peluncur rudal. Namun langkah itu berisiko menyeret Washington ke dalam komitmen militer jangka panjang yang kemungkinan besar tidak didukung publik AS.
Pilihan lain adalah menyatakan kemenangan dan mundur dari konflik. Tetapi langkah tersebut dapat membuat sekutu Amerika di Teluk merasa ditinggalkan menghadapi Iran yang masih kuat dan bermusuhan.
Iran juga dinilai masih berpotensi mengembangkan senjata nuklir sederhana serta mempertahankan pengaruhnya atas jalur pelayaran di Teluk, meskipun Teheran membantah sedang mengupayakan senjata nuklir.
Laporan Reuters pada Jumat juga menyebut militer AS sedang mengirim ribuan marinir dan pelaut tambahan ke Timur Tengah, meskipun belum ada keputusan untuk mengerahkan pasukan langsung ke wilayah Iran.
Tekanan Politik dan Ekonomi
Perang ini juga memperlihatkan mulai melemahnya pengaruh Trump di dalam gerakan politiknya sendiri, MAGA. Sejumlah influencer terkemuka mulai mengkritik konflik tersebut.
Meski basis pendukungnya masih sebagian besar berdiri di belakangnya, para analis menilai dukungan itu bisa goyah jika harga bahan bakar terus naik dan lebih banyak pasukan Amerika dikirim ke kawasan.
