MEMASUKI pekan ketiga perang dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadapi tekanan yang semakin besar di dalam dan luar negeri. Perang yang sebelumnya ia sebut hanya akan menjadi “tamasya singkat” kini berkembang menjadi krisis yang lebih kompleks dengan ditandai lonjakan harga energi global, sekutu yang menjauh, dan pengerahan ribuan pasukan tambahan.
Trump pada akhir pekan ini tetap mempertahankan sikap defensif. Ia bahkan menyebut negara-negara anggota NATO sebagai pengecut karena menolak membantu mengamankan Selat Hormuz. Meski begitu, ia menegaskan operasi militer yang dilancarkan Washington berjalan sesuai rencana.
Pernyataannya bahwa pertempuran tersebut yang telah dimenangkan secara militer justru berbenturan dengan kenyataan di lapangan. Iran masih melakukan perlawanan, termasuk mengganggu pasokan minyak dan gas dari kawasan Teluk serta meluncurkan serangan rudal di berbagai wilayah.
Baca Juga:Saad al-Kaabi CEO QatarEnergy Ungkap Dirinya Ingatkan Amerika Serikat Bahaya Pasokan Energi Saat Konflik IranPerdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran
Trump, yang saat kampanye menjanjikan akan menjauhkan AS dari intervensi militer “bodoh”, kini dinilai tidak sepenuhnya mengendalikan arah konflik yang turut ia mulai. Ketiadaan strategi keluar yang jelas juga berpotensi menimbulkan dampak politik, baik bagi warisan kepresidenannya maupun bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November.
“Trump telah membangun kotak untuk dirinya sendiri yang disebut perang Iran, dan ia tidak bisa menemukan cara untuk keluar darinya,” kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah yang pernah bekerja di pemerintahan Partai Republik maupun Demokrat, dilansir Reuters, Minggu (22/3/2026). “Itulah sumber frustrasi terbesarnya.”
Seorang pejabat Gedung Putih menolak penilaian tersebut. Ia menegaskan bahwa banyak pemimpin tertinggi Iran telah dieliminasi dalam operasi pembunuhan terarah, sebagian besar armada lautnya telah ditenggelamkan, dan sebagian besar persenjataan rudal balistiknya telah dihancurkan.
“Ini merupakan keberhasilan militer yang tidak terbantahkan,” kata pejabat tersebut.
Batas Kekuasaan Trump
Perkembangan dalam sepekan terakhir memperlihatkan keterbatasan pengaruh Trump di berbagai bidang seperti diplomatik, militer, maupun politik.
Menurut seorang pejabat Gedung Putih lainnya yang berbicara secara anonim, Trump sempat terkejut ketika sejumlah sekutu NATO dan mitra internasional menolak mengirimkan angkatan laut mereka untuk membantu mengamankan Selat Hormuz.
