Petinggi Intelijen Amerika Serikat Tolak Klaim Agresif Donald Trump Terkait Ancaman Iran

(Dari kiri) Direktur FBI Kash Patel, Direktur Badan Intelijen Pertahanan James Adams, Direktur Intelijen Nasio
(Dari kiri) Direktur FBI Kash Patel, Direktur Badan Intelijen Pertahanan James Adams, Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard, Penjabat Komandan AS. Komando Siber William Hartman, dan Direktur CIA John Ratcliffe duduk di depan Komite Senat tentang sidang Intelijen untuk memeriksa ancaman di seluruh dunia di Capitol Hill pada hari Rabu, 18 Maret 2026, di Washington. (Jose Luis Magana/AP)
0 Komentar

PARA pejabat tinggi pemerintahan Trump memberikan kesaksian publik pertama mereka sejak meletusnya perang Iran tiga minggu lalu. Dalam sidang Komite Intelijen Senat pada Rabu (18/3/2026), jajaran direktur intelijen justru memberikan pernyataan yang bertolak belakang dengan klaim-klaim agresif Presiden Donald Trump terkait ancaman Iran.

Sidang ini menghadirkan Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard, Direktur CIA John Ratcliffe, dan Direktur FBI Kash Patel. Kehadiran mereka terjadi hanya berselang satu hari setelah pengunduran diri Direktur Pusat Penanggulangan Terorisme Nasional, Joe Kent, yang menuduh administrasi Trump telah berbohong mengenai adanya “ancaman mendesak” dari Iran.

Kontradiksi Data Nuklir dan Rudal

Poin paling krusial dalam sidang ini adalah bantahan terhadap pernyataan Trump, Iran sedang membangun kembali program nuklirnya. Dalam pidato kenegaraannya, Trump menyebut Iran “memulai semuanya dari awal.” Bahkan, penasihat Gedung Putih Steve Witkoff mengklaim Iran hanya berjarak satu minggu dari memiliki bahan pembuat bom nuklir.

Namun, Tulsi Gabbard dalam pernyataan tertulisnya menyampaikan fakta berbeda.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

“Sebagai hasil dari Operasi Midnight Hammer (pada Juni lalu), program pengayaan nuklir Iran telah hancur total,” kata Gabbard. “Sejak saat itu, tidak ada upaya untuk mencoba membangun kembali kemampuan pengayaan mereka.”

Gabbard juga gagal memperkuat klaim Trump mengenai rudal balistik antarbenua (ICBM) Iran yang disebut akan “segera mencapai Amerika Serikat.” Menurut penilaian intelijen, teknologi yang ada saat ini baru memungkinkan Iran mengembangkan ICBM militer yang layak sebelum tahun 2035, bukan dalam waktu dekat.

Perdebatan Definisi “Ancaman Mendesak”

Inti dari persidangan ini berpusat pada subjektivitas istilah “ancaman mendesak” (imminent threat) yang digunakan Trump sebagai dasar pembenaran perang. Gabbard, yang sebelum bergabung dengan kabinet dikenal sangat menentang perang, kini memilih posisi netral yang memicu kritik dari pihak Demokrat.

Ketika ditekan oleh Senator Jon Ossoff mengenai apakah intelijen menunjukkan adanya ancaman nuklir yang mendesak, Gabbard menjawab, “Satu-satunya orang yang dapat menentukan apa yang merupakan ancaman dan apa yang bukan adalah Presiden.”

Ia menambahkan, “Bukan tanggung jawab komunitas intelijen untuk menentukan apa yang merupakan ancaman mendesak dan apa yang bukan.”

0 Komentar