Mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat Sebut Adanya Upaya Sistematis Bungkam Intelijen

Joe Kent ( Daniel Heuer/Bloomberg/Getty Images)
Joe Kent ( Daniel Heuer/Bloomberg/Getty Images)
0 Komentar

JOE Kent, mantan Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, meluncurkan kritik tajam terhadap pemerintahan Trump terkait perang dengan Iran. Dalam wawancara perdana pasca-pengunduran dirinya, Kent menyebut adanya upaya sistematis untuk membungkam suara kritis di internal intelijen sebelum konflik meletus.

Kepada podcaster konservatif Tucker Carlson, Kent mengungkapkan perbedaan mencolok antara serangan ke situs nuklir Iran tahun lalu dengan eskalasi saat ini. Menurutnya, jika dulu terdapat “debat yang kuat”, kali ini kemampuan komunitas intelijen untuk memberikan penilaian objektif atau sanity check justru ditekan.

“Menjelang iterasi terakhir ini, sejumlah besar pengambil keputusan utama tidak diizinkan datang dan menyampaikan pendapat mereka kepada presiden,” ujar Kent pada Rabu (18/3/2026). Ia menambahkan diskusi dilakukan di balik pintu tertutup tanpa memberi ruang bagi suara-suara yang berbeda pendapat.

Bantahan Atas “Ancaman Mendesak”

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Pemerintahan Trump berulang kali menggunakan dalih “ancaman nuklir yang mendesak” sebagai dasar peluncuran serangan. Namun, Kent secara tegas membantah adanya data intelijen yang mendukung narasi serangan mendadak berskala besar.

“Tidak ada intelijen yang mengatakan bahwa pada tanggal 1 Maret, misalnya, Iran akan meluncurkan serangan mendadak besar-besaran, semacam 9/11, Pearl Harbor, dan sebagainya. Tidak ada intelijen seperti itu,” tegas Kent. Ia menilai Iran adalah aktor yang sangat berhati-hati dalam menaiki tangga eskalasi.

Kent juga memberikan pandangan mengejutkan mengenai mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan AS-Israel bulan lalu. Menurutnya, Khamenei justru berperan sebagai penahan laju program senjata nuklir Iran.

“Saya bukan penggemar mantan pemimpin tertinggi Ali Khamenei, namun, dia memoderasi program nuklir mereka. Dia mencegah mereka mendapatkan senjata nuklir,” kata Kent. Ia memperingatkan bahwa pembunuhan agresif terhadap tokoh tersebut justru akan membuat rakyat Iran bersatu mendukung rezim.

Kritik Terhadap Pengaruh Israel

Selain masalah intelijen, Kent secara terbuka menuding Israel telah menarik Amerika Serikat ke dalam konflik ini dan memengaruhi kebijakan luar negeri AS di Timur Tengah secara luas. Ia mengkritik logika Sekretaris Negara Marco Rubio yang menyebut Iran sebagai ancaman karena diyakini akan membalas jika Israel menyerang.

0 Komentar