PRESIDEN Prabowo Subianto menilai tidak ada rasionalitas serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
“Kita semua bingung dan saya sedih, saya merasa tidak ada rasionalitas dalam (kampanye militer melawan Iran) ini,” kata Presiden Prabowo dalam wawancara dengan Bloomberg pada Sabtu 14 Maret yang diterbitkan pada Minggu, dilansir dari Channel News Asia, Selasa 17 Maret 2026.
AS dan Israel melancarkan serangan paling ambisius mereka terhadap Iran dalam beberapa dekade pada 28 Februari, menjerumuskan kawasan itu ke dalam konflik baru ketika Teheran menanggapi dengan meluncurkan rudal ke arah negara-negara lain di Teluk.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Iran mengklaim bahwa mereka memiliki “bukti yang cukup” bahwa pangkalan AS di wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan.
Presiden menggambarkan kampanye militer AS-Israel sebagai “perang asimetris” di mana Iran mungkin “hanya harus bertahan hidup”.
Lebih lanjut presiden menambahkan bahwa pejabat Iran waspada untuk memasuki negosiasi dengan AS untuk mengakhiri konflik.
“Dua kali, dua kali, mereka merasa pada dasarnya telah ditipu. Itulah yang mereka katakan,” kata Prabowo.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran tentang apakah strategi AS untuk membom Iran dapat menyebabkan perubahan rezim.
“Sangat sulit untuk melakukan operasi ini hanya dari udara,” kata Prabowo, menambahkan bahwa dibutuhkan “pengeboman tanpa pandang bulu” untuk mencapai tujuan tersebut.
Kampanye militer telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah memimpin negara itu sejak 1989. Sebagai gantinya, Mojtaba Khamenei, putra almarhum pemimpin tertinggi, kemudian diangkat untuk menggantikan ayahnya sebagai kepala negara Republik Islam yang baru.
Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius
Prabowo mengatakan bahwa ia tidak dapat memprediksi berapa lama perang akan berlangsung, dan mengatakan bahwa semua pihak harus bersedia terlibat agar mediasi dapat membantu mengakhiri konflik.
“Saran saya selalu mencari opsi damai,” katanya kepada Bloomberg, menceritakan pengalamannya sebagai seorang tentara. Presiden adalah mantan jenderal Angkatan Darat Indonesia.
“Saya pernah menjadi tentara. Saya pernah bertempur. Dan saya orang pertama yang menyadari bahwa jika kita bisa berbicara, lebih baik berbicara. Jika kita bisa menyelesaikan masalah di meja perundingan, lebih baik di meja perundingan,” tegas Presiden Prabowo.
