SERANGAN Amerika Serikat-Israel ke Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia jenis Brent ke level 102 dolar AS per barel pada hari ini, Selasa (17/3/2026). Lonjakan harga minyak dunia ini berdampak luas ke seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mewaspadai dampak dari peningkatan harga minyak mentah ini terhadap defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD). Ia khawatir jika peningkatan harga terus berlanjut, CAD Indonesia akan menembus batas atas di kisaran 0,9-0,1 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Menurunnya prospek pertumbuhan ekonomi dunia dan naiknya harga minyak global perlu mendapat perhatian karena dapat memperlebar defisit transaksi berjalan menuju batas atas kisaran defisit 0,9 – 0,1 persen dari PDB,” katanya dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring, Selasa (17/3/2026).
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Adapun, secara umum kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) telah menunjukkan penurunan imbas gejolak yang terjadi di wilayah Timur Tengah tersebut.
Neraca perdagangan mengalami penurunan surplus dari 2,5 miliar dolar AS pada Desember 2025 menjadi 1 miliar dolar AS pada Januari 2026. Perry bilang, penurunan surplus ini merupakan imbas dari melambatnya permintaan ekspor nonmigas Indonesia.
“Neraca perdagangan pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 1,0 miliar dolar AS, lebih rendah dibandingkan dengan surplus pada Desember 2025 sebesar 2,5 miliar dolar AS akibat perlambatan permintaan dunia terhadap ekspor nonmigas,” ucapnya.
Sementara itu, dampak lanjutan dari kondisi geopolitik ini juga mendorong aliran modal asing keluar sebesar 1,1 miliar dolar AS pada investasi portofolio pada Maret 2026.
Padahal, secara kumulatif pada Januari-Februari 2026, aliran modal asing sempat masuk ke Indonesia sebesar 1,6 miliar dolar AS, yang ditopang oleh aliran masuk modal asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
“Pada Maret 2026, investasi portofolio mencatat net outflows sebesar 1,1 miliar dolar AS dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat perang di Timur Tengah,” ucapnya.
Meski begitu, Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap terjaga sebesar 151,9 miliar dolar AS. Angka tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
