China Respons Permintaan Trump Kawal Kapal-Kapal Lintasi Selat Hormuz

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian
0 Komentar

Secara terbuka, banyak pemerintah enggan berkomitmen pada misi semacam itu sebelum perang AS-Israel dengan Iran berakhir, mengingat berbagai risiko yang menyertainya, ungkap WSJ dalam laporannya.

Padahal, Trump mengeklaim, via akun Truth Social pada Sabtu (14/3/2026), banyak negara terutama yang terdampak upaya penutupan Selat Hormuz oleh Iran, akan mengirimkan kapal perang guna mengamankan rute perdagangan minyak.

AS dan Israel melancarkan serangan masif terhadap Iran pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei serta sekitar 1.300 orang lainnya.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Irak, serta negara-negara Teluk yang terdapat lokasi aset militer milik AS termasuk dengan menutup Selat Hormuz, perairan sempit yang menjadi lalu lintas angkutan 20 persen minyak dan gas dunia sehingga menyebabkan harga minyak melonjak dan menimbulkan kekhawatiran akan pasokan energi dan harga pangan global.

Selat Hormuz menjadi pintu keluar utama minyak dari negara-negara produsen energi di kawasan Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Kuwait, Qatar, Iran, dan Uni Emirat Arab.

Sekitar 17 juta hingga 20 juta barel minyak per hari melewati selat ini. Jumlah itu setara dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Sekitar 84 persen minyak yang melewati Selat Hormuz dikirim ke negara-negara Asia, termasuk China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

0 Komentar