Koordinasi pelepasan cadangan minyak ini menjadi yang pertama sejak 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu gejolak besar di pasar energi global.
Dalam aksi terbaru tersebut, sebanyak 32 negara turut berpartisipasi, termasuk sejumlah negara Eropa, Jepang, dan Korea Selatan.
Dengan total pelepasan mencapai 400 juta barel, langkah ini disebut sebagai upaya kolektif terbesar dalam sejarah koordinasi cadangan energi global.
Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?
Pemerintah negara-negara tersebut berharap langkah ini dapat membantu menjaga stabilitas pasokan sekaligus menahan lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Jalur Energi Strategis Terancam
Di tengah upaya stabilisasi tersebut, kondisi keamanan di jalur perdagangan energi global justru semakin memburuk.
Salah satu insiden terbaru terjadi di Irak, ketika otoritas pelabuhan memutuskan menghentikan sementara operasional terminal minyak setelah serangan terhadap kapal tanker di dekat wilayah perairannya.
Keputusan tersebut diambil ketika krisis di kawasan Asia Barat memasuki hari ke-13.
Direktur Jenderal General Company for Ports of Iraq (GCPI) Farhan al-Fartousi mengatakan penghentian operasi hanya berlaku untuk pelabuhan minyak.
“Operasi pelabuhan minyak dihentikan sementara, sementara pelabuhan komersial tetap berjalan,” ujar Farhan seperti dikutip kantor berita negara Irak.
Meski aktivitas ekspor minyak dihentikan sementara, beberapa kapal masih berada di area tunggu pelabuhan.
Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius
Sementara itu, kegiatan bongkar muat barang nonmigas tetap berlangsung di Pelabuhan Umm Qasr Utara dan Umm Qasr Selatan.
Insiden tersebut bermula ketika sebuah kapal tanker yang mengangkut produk minyak mengalami kecelakaan saat proses pemuatan.
Kapal tersebut merupakan bagian dari pengiriman bahan bakar yang dipasok oleh State Organization for Marketing of Oil (SOMO) kepada Iraqi Oil Tankers Company.
Menurut Farhan, kapal tanker tersebut berada di area ship-to-ship (STS) transfer ketika terjadi ledakan saat proses loading berlangsung.
Ia juga menyebut salah satu kapal tanker kecil yang terlibat dalam insiden tersebut diketahui berbendera Malta.
Tim penyelamat bersama unit angkatan laut yang berada di kawasan tersebut berhasil mengevakuasi 38 orang dari lokasi kejadian. Namun satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Untuk memadamkan kebakaran, kapal pemadam khusus dari Pelabuhan Minyak Basra dikerahkan ke lokasi kejadian. Pada sisi lain, tim pencarian dan penyelamatan masih melakukan pencarian terhadap awak kapal yang dilaporkan hilang.
