Harga Minyak Mentah Dunia Melambung Tembus US$ 100 Per Barel

Ilustrasi AI
Ilustrasi Google Gemini AI
0 Komentar

HARGA minyak mentah dunia kembali melonjak hingga menembus US$ 100 per barel. Kenaikan tajam ini dipicu konflik perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat (AS) yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.

Dikutip dari AP, harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional naik 9,2% dan ditutup pada level US$ 100,46 per barel pada Kamis (12/3/2026).

Sementara itu, harga minyak mentah acuan AS juga melonjak. Minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 9,7% dan ditutup pada level US$ 95,73 per barel.

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Sebelumnya pada Senin (9/3/2026), minyak Brent sempat melonjak mendekati US$ 120 per barel, sebelum turun di bawah US$ 90 setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan perang mungkin segera berakhir. Namun, serangan militer terus meningkat setelahnya.

Lonjakan harga ini dipicu kekhawatiran bahwa konflik di kawasan Teluk Persia dapat menghambat produksi minyak dalam jangka panjang. Apabila hal itu terjadi, inflasi global berpotensi melonjak dan memberi tekanan besar pada perekonomian dunia.

Situasi memanas setelah pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengeluarkan pernyataan pertamanya. Ia menegaskan, negaranya akan terus melakukan serangan terhadap negara-negara Arab di kawasan Teluk serta menggunakan potensi penutupan Selat Hormuz sebagai tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.

Selat Hormuz merupakan jalur penting perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak global biasanya melewati selat tersebut. Gangguan pada jalur ini dapat berdampak besar terhadap pasokan minyak dunia.

Sejumlah negara kini berupaya menutupi kekurangan pasokan tersebut. Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan negara-negara anggotanya akan melepas cadangan minyak darurat hingga 400 juta barel untuk membantu menstabilkan pasar.

Namun, para analis menilai langkah ini hanya solusi sementara. Apabila Selat Hormuz tetap tertutup dalam waktu lama, harga minyak dunia berpotensi melonjak hingga US$ 150 per barel.

“Gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz dan penghentian produksi di beberapa negara Timur Tengah dapat menyebabkan kekurangan pasokan jangka panjang,” kata analis pasar dari Moomoo ANZ, Tina Teng, dikutip dari Reuters.

Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius

Lonjakan harga minyak kali ini dinilai mengkhawatirkan karena terjadi di tengah kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

0 Komentar