Pertahanan Mosaik dan Strategi Atrisi Militer Iran Lawan Amerika Serikat-Israel

Iran telah menghabiskan sekitar 20 tahun atau 2 dekade untuk mempelajari perang-perang AS dalam hubungannya u
Iran telah menghabiskan sekitar 20 tahun atau 2 dekade untuk mempelajari perang-perang AS dalam hubungannya untuk membangun sistem yang dapat terus berperang bahkan jika ibu kota Teheran dibom.
0 Komentar

POLA strategi militer Iran dalam perang yang semakin meluas dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel menunjukkan Iran mereka tidak berjuang untuk kemenangan dalam arti kemenangan yang konvensional. Pertahanan mosaik dan strategi atrisi mencuat terkait bagaimana Teheran menghadapi gempuran AS dan Israel dalam perang kali ini.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Iran telah menghabiskan sekitar 20 tahun atau 2 dekade untuk mempelajari perang-perang AS dalam hubungannya untuk membangun sistem yang dapat terus berperang bahkan jika ibu kota Teheran dibom. Ia menggambarkan lebih dari sekadar ketahanan, namun menguraikan logika doktrin pertahanan Iran yang oleh para pemikir militer Iran disebut “Mosaic Defence” atau pertahanan mosaik terdesentralisasi.

Mengutip Al Jazeera, Rabu (11/3/2026), pertahanan mosaik adalah konsep yang dibangun di atas satu asumsi utama bahwa dalam perang apa pun dengan AS atau Israel, Iran mungkin kehilangan komandan senior, fasilitas utama, jaringan komunikasi, dan bahkan kendali terpusat, tetapi tetap harus mampu terus maju berperang.

Mengenal Pertahanan Mosaik dan Atrisi Iran

Baca Juga:Perdana Menteri Thailand Instruksikan PNS Hemat Energi di Tengah Konflik Amerika Serikat-Israel dengan IranBagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Pertahanan mosaik adalah konsep militer Iran yang paling erat kaitannya dengan Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard (IRGC), khususnya di bawah mantan komandan Mohammad Ali Jafari, yang memimpin pasukan tersebut dari 2007 hingga 2019.

Idenya adalah untuk mengatur struktur pertahanan negara menjadi beberapa lapisan regional dan semi-independen, alih-alih memusatkan kekuasaan hanya dalam satu rantai komando tunggal yang dapat langsung lumpuh oleh serangan yang mematikan.

Dalam model ini, IRGC, pasukan Basij, unit tentara reguler, pasukan rudal, aset angkatan laut, dan struktur komando lokal membentuk bagian dari sistem terdistribusi. Jika satu bagian terkena serangan, maka bagian lain tetap berfungsi. Jika para pemimpin senior terbunuh, rantai ini tidak runtuh. Jika komunikasi terputus, unit-unit lokal masih dapat mempertahankan otoritas dan kapasitas untuk bertindak.

Doktrin ini disebutkan memiliki dua tujuan utama. Pertama, membuat sistem komando Iran sulit dibongkar dengan aksi kekerasan, dan kedua, membuat medan perang itu sendiri lebih sulit diselesaikan dengan cepat dengan mengubah Iran menjadi arena berlapis-lapis yang terdiri dari pertahanan reguler, perang random, mobilisasi lokal, dan perang gesekan atau atrisi yang dilakukan dalam periode jangka panjang.

0 Komentar