Sirine Pertahanan Udara Serentak dari Ujung Utara hingga Selatan Gurun Negev Israel, Teheran Kirim Pesan

Situs Nuklir Dimona Israel | Science Photo Library
Situs Nuklir Dimona Israel | Science Photo Library
0 Komentar

Situasi ini semakin memperumit krisis kemanusiaan di dalam Israel. Dengan jangkauan rudal yang mencakup hampir seluruh wilayah negara, ruang gerak logistik dan operasional militer menjadi sangat terbatas. Kini, saat sirine terus meraung di pusat-pusat populasi dari Beisan hingga Lembah Jezreel, warga hanya bisa menunggu dalam doa di balik dinding-dinding beton bunker, menanti kapan hujan api dari langit ini akan berakhir.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei menuding bahwa Amerika Serikat telah dengan sengaja mentorpedo proses diplomatik yang sedang berlangsung melalui serangan militer besar-besaran.

“Mereka mengobarkan perang di saat kami sedang terlibat sepenuhnya dalam diskursus diplomatik,” ujar Baghaei dalam konferensi pers di Teheran, Senin (9/3/2026). Pernyataan ini menegaskan bahwa diplomasi kini telah mati, digantikan oleh kesatuan nasional yang tak tergoyahkan. “Oleh karena itu, kami hadir dengan satu suara: membela negara kami.”

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Bagi Teheran, agresi gabungan AS-Israel bukan sekadar konfrontasi bersenjata, melainkan serangan terhadap tatanan hukum dunia. Baghaei menegaskan bahwa setiap norma, praktik, dan hukum internasional kini berada dalam risiko besar akibat tindakan Washington dan Tel Aviv yang secara terang-terangan melanggar kedaulatan sebuah negara berdaulat.

Di balik retorika militer, Iran mencium aroma ambisi ekonomi yang kental. Baghaei menuduh AS memiliki desain besar yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar serangan udara: yaitu memecah belah (partitioning) wilayah Iran guna menguasai sumber daya minyak secara ilegal.

“Desain mereka jelas, rencana mereka sangat nyata. Mereka bertujuan membagi negara kami untuk mengambil kepemilikan ilegal atas kekayaan minyak kami,” tegas Baghaei. Baginya, tujuan akhir dari serangan ini adalah pelanggaran kedaulatan, penaklukan rakyat, dan penghancuran nilai-nilai kemanusiaan bangsa Iran.

Tuduhan tersebut, ujar Baghaei, menjadi katalisator bagi bersatunya berbagai elemen politik di Iran. Di saat ancaman terhadap cadangan minyak nasional kian nyata—terutama di wilayah-wilayah strategis seperti Khuzestan—rakyat Iran dipaksa untuk memilih antara perselisihan internal atau bersatu melawan apa yang mereka sebut sebagai “penjajahan modern”.

Jumlah korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon sejak 2 Maret telah bertambah menjadi 394 orang, sementara 1.130 lainnya mengalami luka-luka, kata otoritas kesehatan Lebanon pada Ahad (8/3).

0 Komentar