Mojtaba Khamenei Pemimpin Tertinggi Iran, China Hormati Integritas Teritorial, Kedaulatan dan Keamanan

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun (Dok. mfa.gov.cn)
0 Komentar

PEMERINTAH China buka suara atas keputusan Iran untuk menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru setelah pembunuhan ayahnya. China menyebut itu merupakan masalah domestik, dan China menentang setiap upaya untuk menyerang dia.

Militer Israel telah mengancam akan menargetkan setiap pengganti pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang wafat dalam serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menganggap Mojtaba Khamenei sebagai “tokoh yang tidak berpengaruh”, dan bersikeras bahwa ia harus memiliki suara dalam penunjukan pemimpin Iran yang baru.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Dilansir kantor berita AFP, Senin (9/3/2026), juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan kepada wartawan pada hari Senin (9/3), bahwa keputusan Iran untuk menunjuk putra Khamenei adalah “berdasarkan konstitusinya”.

“China menentang campur tangan dalam urusan internal negara lain dengan dalih apa pun, dan kedaulatan, keamanan, dan integritas teritorial Iran harus dihormati,” katanya ketika ditanya tentang ancaman terhadap pemimpin baru Iran tersebut.

Beijing adalah mitra dekat Teheran dan telah mengutuk pembunuhan Khamenei, tetapi juga mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk.

Utusan China untuk Timur Tengah, Zhai Jun mendesak de-eskalasi ketika bertemu dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Arab Saudi Faisal bin Farhan pada hari Minggu (8/3).

“China mendesak semua pihak untuk segera menghentikan operasi militer, mencegah eskalasi ketegangan lebih lanjut, dan menghindari menyebabkan kerugian yang lebih besar bagi rakyat negara-negara di kawasan,” kata Zhai Jun kepada Menlu Saudi tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, mengatakan bahwa perang “seharusnya tidak pernah terjadi” dan menyerukan diakhirinya pertempuran.

0 Komentar