ESKALASI konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran dalam beberapa hari terakhir memicu kekhawatiran global. Serangan udara, balasan rudal, hingga ancaman penutupan Selat Hormuz menandai babak baru ketegangan di Timur Tengah yang dampaknya dapat menjalar ke seluruh dunia.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai bahwa situasi ini bukan sekadar konflik regional, melainkan alarm keras bagi stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia.
Dia menyebut, ketahanan dalam negeri bukan lagi slogan. Ketahanan ini menjadi kebutuhan mendesak. Ketika dunia tidak stabil, Indonesia harus berdiri di atas kaki sendiri.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
“Program kemandirian bangsa yang tengah didorong Pemerintah menjadi relevan. Swasembada pangan, swasembada energi, hingga kemandirian industri bukan sekadar janji politik. Ia adalah strategi bertahan,” ujar Agung, dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).
Ia menjelaskan, sekitar seperlima distribusi energi dunia melintasi Selat Hormuz. Jika jalur tersebut terganggu, negara-negara pengimpor energi akan menghadapi tekanan berat. Dalam konteks inilah, upaya memperkuat ketahanan dalam negeri menjadi sangat relevan.
Menurut Agung, swasembada pangan menjadi benteng pertama dalam menghadapi gejolak global. Dengan cadangan beras nasional yang meningkat dan komitmen untuk tidak bergantung pada impor, Indonesia memiliki bantalan terhadap potensi gangguan distribusi global.
“Ketika jalur logistik global terganggu, ketika kapal-kapal tertahan akibat konflik, rakyat tetap harus makan. Kemandirian pangan menjadi benteng pertama,” tambagnya.
Dia melanjutkan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga memainkan peran penting. “Ia menjamin kebutuhan dasar masyarakat, sekaligus menciptakan lapangan kerja. Ekonomi domestik bergerak dan daya beli terjaga,” katanya.
Selain pangan, sektor energi menjadi prioritas berikutnya. Ketergantungan terhadap impor energi, lanjut Agung, merupakan kerentanan struktural yang harus dikurangi secara bertahap melalui peningkatan produksi dalam negeri, penguatan kilang, serta diversifikasi sumber energi.
“Energi adalah urat nadi kedua. Penutupan Selat Hormus memberi pelajaran mahal. Ketergantungan pada impor energi adalah risiko besar. Kilang-kilang milik Pertamina tengah didorong untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi. Lifting minyak ditambah. Targetnya jelas. Mengurangi impor,” ujarnya.
