“Apalagi harga minyak mentah pada asumsi makro APBN adalah 70 dolar AS per barel dan defisit terhadap PDB berada di kisaran 2,68 persen. Dengan harga migas di atas 100 dolar AS per barel, kemungkinan defisit anggaran bisa tembus di atas 3,6 persen,” ujar Eddy.
Ia menerangkan pada 2025 Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah dan 37,8 juta ton produk petroleum dengan nilai mencapai 32,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 551 triliun. Apabila volume impor tetap sama, kebutuhan devisa diperkirakan meningkat seiring kenaikan harga energi dan pelemahan kurs rupiah.
“Kita perlu mewaspadai kondisi disruptif di pasar energi tidak hanya dari kenaikan harga migas, tetapi juga dari sisi ketersediaan pasokan. Security of supply menjadi sangat penting karena defisit neraca migas global akibat penutupan Selat Hormuz bisa membuat banyak negara pontang-panting mencari substitusi,” terangnya.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Eddy menilai pemerintah kemungkinan telah menyiapkan alternatif sumber impor energi dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat. Diversifikasi pasokan dinilai penting agar Indonesia tidak terlalu bergantung pada satu kawasan pemasok energi.
Praktisi migas Hadi Ismoyo menilai lonjakan harga minyak dunia juga membuat beban PT Pertamina (Persero) semakin berat jika tidak diikuti penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Saat ini harga minyak global telah menembus sekitar 111 dolar AS per barel, jauh di atas asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dipatok sekitar 70 dolar AS per barel.
Kondisi tersebut menimbulkan tekanan besar terhadap pengelolaan energi nasional. Selisih harga yang lebar antara asumsi APBN dan harga pasar berpotensi meningkatkan beban subsidi maupun kompensasi energi.
“Berat bagi Pertamina jika tidak ada penyesuaian harga atau penambahan pagu subsidi BBM tanpa menaikkan harga. Di lain pihak, ruang fiskal juga sempit. Pilihannya sangat sulit,” kata Hadi.
Menurut dia, lonjakan harga minyak dunia mendorong kenaikan biaya produksi energi. Kondisi tersebut pada akhirnya mempengaruhi harga berbagai produk turunan, termasuk BBM yang dipasarkan di dalam negeri.
