Apa Sebab Mojtaba Khamenei Tak Disukai Amerika Serikat? Ini Sosok Putra Ayatollah Ali Khamenei

Mojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei
0 Komentar

IRAN resmi memiliki pemimpin tertinggi baru setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara yang memicu konflik besar di kawasan Timur Tengah. Majelis Ahli Iran akhirnya menunjuk putra mendiang pemimpin tersebut, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus posisi tertinggi di Republik Islam.

Penunjukan ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali dalam struktur kekuasaan Iran.

Media Iran melaporkan bahwa badan ulama tersebut memilih Mojtaba Khamenei, seorang ulama tingkat menengah berusia 56 tahun, lebih dari sepekan setelah ayahnya tewas dalam serangan udara di tengah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.

Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi

Seorang anggota majelis tersebut, Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir, mengungkapkan bahwa kandidat dipilih berdasarkan panduan dari Ali Khamenei sendiri sebelum wafat.

Ia mengatakan pemimpin tertinggi Iran seharusnya bukan sosok yang disukai oleh musuh negara.

“Kandidat dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya ‘dibenci oleh musuh’,” kata Heidari Alekasir dalam sebuah video yang dirilis pada Minggu (8/3/2026).

Ia juga menyinggung pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menolak kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.

“Bahkan Setan Besar [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya,” kata Heidari Alekasir, merujuk pada pernyataan Trump beberapa hari sebelumnya yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima”.

Sosok di Balik Layar

Dilansir Reuters, selama bertahun-tahun, Mojtaba Khamenei dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar pemerintahan ayahnya. Ia memperkuat posisinya melalui kedekatan dengan aparat keamanan serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.

Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis yang ingin membuka hubungan dengan Barat, terutama dalam upaya membatasi program nuklir Iran.

Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza

Kedekatannya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) memberi pengaruh besar dalam sistem politik dan keamanan negara tersebut.

Sejumlah sumber menyebut ia membangun pengaruhnya secara bertahap sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.

“Ia memiliki basis dukungan yang kuat di dalam IRGC, terutama di kalangan generasi muda yang lebih radikal,” kata Kasra Aarabi, kepala penelitian IRGC di organisasi kebijakan berbasis di Amerika Serikat, United Against Nuclear Iran.

0 Komentar