SEBUAH dokumen rahasia berisi laporan asesmen intelijen menyimpulkan bahwa serangan militer skala besar pun tak akan bisa menggulingkan Republik Islam Iran. Laporan yang didapat oleh Washington Post dilansir Al Mayadeen, pada Sabtu (7/3/2026) itu menyebutkan bahwa struktur ulama dan mliter di Iran sangat kokoh dan mampu mempertahankan sistem pemerintahan bahkan dalam kondisi tekanan hebat dari pihak luar.
Temuan ini terungkap di tengah pemerintahan Donald Trump yang mensinyalkan kemungkinan perang panjang dengan Iran, di mana beberapa pejabat menyatakan bahwa perang ” baru saja dimulai”. Menurut tiga orang yang mengetahui dokomen rahasia itu, kalangan intelijen AS meragukan tujuan Trump “membersihkan” kepemimpinan Iran dan menggantinya dengan pemimpin pilihannya.
Asesmen lengkap disusun oleh Dewan Intelijen Nasional (NIC) AS sepekan sebelum AS dan Israel melancarkan serangan. NIC menguji sejumlah skenario termasuk serangan terbatas pada pemimpin senior dan juga serangan yang lebih luas menyasar institusi pemerintahan dan kepemimpinan politik Iran.
Baca Juga:Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko Tinggi
Dari dua skenario itu, para analis intelijen menyimpulkan bahwa ulama Iran dan kepemimpinan militer akan pasti merespons pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei dengan mengaktivasi mekanisme konstitusional untuk memastikan keberlanjutan kekuasaan. Laporan itu juga mengasesmen bahwa oposisi yang terfragmentasi di Iran kemungkinan tidak bisa mengambil alih kontrol kekuasaan dalam kondisi sekarang.
Para sumber yang dikutip Washington Post, menggambarkan pengambilalihan kekuasaan oleh kelompok oposisi di Iran tidak mungkin terjadi. NIC terdiri dari para analis senior yang ditugaskan memproduksi asesmen rahasia yang merefleksikan analisas kolektif dari 18 dewan intelijen di AS.
Pada Rabu (4/3/2026), Majelis Ahli dilaporan Iran International, telah memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran. Mojtaba adalah putra dari Ayatollah Ali Khamanei.
Laporan Iran International mengutip sumber menyebutkan bahwa pemilihan Mojtaba atas tekanan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Sebelumnya, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani memastikan bahwa Majelis Ahli akan berkumpul pada Ahad (1/3/2026) dan memulai proses pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan Ali Khamenei yang syahid.
“Menurut pasal 111 Konstitusi Iran, dalam hal kematian pemimpin tertinggi, Majelis Ahli harus memilih pemimpin tertinggi yang baru secepatnya,” kata Larijani, sebagaimana disiarkan televisi nasional Iran.
