Menurut Hvalbye, kondisi ini akan mendorong harga gas di Eropa menembus di atas 60 euro per megawatt jam, dibandingkan sekitar 50 euro saat ini dan sekitar 32 euro pada akhir pekan lalu.
Ia juga memperingatkan bahwa jika kompleks LNG Ras Laffan milik Qatar mengalami penutupan berkepanjangan, pasar energi bisa menghadapi tekanan serupa krisis energi 2022.
Dalam skenario tersebut, Hvalbye mengatakan harga gas bahkan bisa melonjak hingga 100 euro per megawatt jam atau lebih. Ia menambahkan bahwa dalam kondisi seperti itu, pengurangan konsumsi energi kemungkinan akan menjadi mekanisme utama yang menyeimbangkan pasar.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Di sisi lain, Norwegia, pemasok gas terbesar Eropa saat ini, sudah memproduksi gas pada kapasitas maksimum. Walaupun gas yang akan disuntikkan ke fasilitas penyimpanan musim panas ini berasal dari campuran gas pipa dan LNG, kebutuhan tambahan hampir pasti harus dipenuhi dari LNG.
Pasko menambahkan bahwa kenaikan harga gas justru dapat mengurangi insentif bagi perusahaan untuk menyimpan gas dalam jumlah besar, karena banyak pelaku pasar memperkirakan harga akan turun kembali ketika konflik mereda dan pasokan LNG baru mulai beroperasi.
Ketergantungan Eropa terhadap LNG
Saat ini, AS menjadi pemasok LNG terbesar bagi Eropa dan juga merupakan pemasok gas terbesar kedua bagi kawasan tersebut secara keseluruhan.
Washington telah mendorong Uni Eropa untuk membeli lebih banyak LNG dari Amerika Serikat seiring bertambahnya proyek LNG baru yang meningkatkan kapasitas pasokan.
Namun meski demikian, produksi LNG AS tidak dapat meningkat cukup cepat untuk sepenuhnya menggantikan volume LNG dari Qatar yang hilang akibat gangguan saat ini.
Data Komisi Eropa menunjukkan bahwa pada 2025, Qatar menyumbang sekitar 3,5% dari total pasokan gas Uni Eropa, sementara Amerika Serikat menyumbang sekitar 25,4%.
Badan Energi Internasional memperkirakan pasokan LNG global akan meningkat lebih dari 7% atau sekitar 42 miliar meter kubik pada 2026, dengan tambahan terbesar berasal dari Amerika Serikat.
