Sejak konflik dengan Iran memanas, harga gas pipa maupun LNG langsung melonjak. Harga gas acuan Eropa bahkan sempat mencapai level tertinggi sejak awal 2023 dan naik hampir 50% dalam sepekan terakhir setelah Qatar menutup ladang gasnya yang menyumbang sekitar seperlima pasokan LNG global.
Lonjakan juga terjadi pada kontrak LNG global acuan Asia, Japan-Korea Marker, yang melonjak hingga 68% ketika para pembeli berupaya menggantikan volume LNG Qatar yang hilang dari pasar.
Akibatnya, biaya yang harus dikeluarkan Eropa untuk tambahan 180 kargo LNG meningkat drastis. Perhitungan Reuters menunjukkan nilainya melonjak menjadi sekitar US$10,1 miliar pada Rabu, naik dari sekitar US$6,7 miliar pada Jumat pekan lalu.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Jika dihitung untuk seluruh kebutuhan pengisian musim panas sebesar 67 miliar meter kubik, total biayanya kini diperkirakan naik sekitar US$13,6 miliar menjadi sekitar US$40 miliar.
Para analis memperkirakan fasilitas penyimpanan gas di Eropa hanya akan terisi sekitar 22% hingga 27% pada akhir Maret. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir yang sekitar 41%.
Jika dalam empat minggu ke depan pasokan LNG semakin berkurang akibat gangguan dari Timur Tengah, maka tingkat penyimpanan tersebut berpotensi turun lebih dalam lagi.
Analis Energy Aspects, Erisa Pasko, mengatakan bahwa jika gangguan pelayaran di Selat Hormuz berlangsung selama satu bulan, cadangan gas Eropa bisa jatuh ke titik terendah dalam sejarah pada akhir musim dingin dan berdampak pada tingkat pengisian yang lebih rendah pada akhir Oktober.
Selat Hormuz merupakan jalur energi yang sangat vital. Sekitar 120 miliar meter kubik LNG per tahun, atau sekitar 20% dari pasokan LNG global, melewati perairan tersebut. Sekitar empat perlima pengiriman itu menuju pasar Asia.
Sementara itu, analis komoditas SEB Research, Ole Hvalbye, memperkirakan bahwa jika gangguan berlangsung selama satu bulan, sekitar 7 juta ton LNG atau sekitar 9,7 miliar meter kubik gas akan hilang dari pasar global.
Dalam situasi tersebut, Eropa diperkirakan dapat kehilangan sekitar 5,5 juta ton LNG atau sekitar 7,6 miliar meter kubik karena harus bersaing dengan pembeli di Asia untuk mendapatkan kargo yang tersedia.
