PERANG yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kini mulai memicu efek domino terhadap pasar energi global. Bagi Eropa, situasi ini menjadi ancaman serius karena upaya mengisi kembali cadangan gas menjelang musim dingin berikutnya kini berubah menjadi jauh lebih berisiko sekaligus lebih mahal, seiring gangguan terhadap produksi dan pengiriman gas alam cair (LNG).
Dampak perang terhadap Iran telah mengguncang rantai pasokan LNG dunia, memperketat ketersediaan gas serta mendorong lonjakan harga yang tajam. Situasi ini datang pada saat yang sangat krusial bagi Eropa yang sedang bersiap mengisi kembali fasilitas penyimpanan gasnya setelah musim dingin.
Cadangan gas memainkan peran vital bagi keamanan energi Eropa. Stok yang tersimpan di berbagai gua bawah tanah dan tangki penyimpanan di seluruh benua digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemanas dan listrik selama musim dingin.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Namun tahun ini, persediaan gas diperkirakan akan berakhir jauh di bawah level normal ketika musim pemanasan berakhir. Kondisi tersebut memaksa negara-negara Eropa untuk membeli gas dalam jumlah jauh lebih besar selama musim panas ketika mereka biasanya mengisi kembali fasilitas penyimpanan.
Ketergantungan Eropa terhadap LNG juga meningkat tajam sejak blok tersebut menghentikan sebagian besar impor gas pipa dari Rusia setelah invasi Moskow ke Ukraina pada 2022.
Dilansir Reuters, Kamis (5/3/2026), sebelum perang Ukraina, LNG hanya menyumbang sekitar 19% dari pasokan gas Eropa. Namun menurut S&P Global Energy, porsi tersebut diperkirakan melonjak menjadi 45% tahun ini, atau sekitar 174 miliar meter kubik gas, setara dengan sekitar 1.800 kapal tanker LNG.
Para analis dari Kpler memperkirakan pembeli di Eropa harus mencari sekitar 700 kargo LNG, atau sekitar 67 miliar meter kubik gas, hanya untuk mengisi penyimpanan musim panas ini. Jumlah tersebut sekitar 180 kargo, atau 17 miliar meter kubik, lebih banyak dibandingkan tahun lalu.
Sebagian kecil pasokan memang akan datang melalui pipa dari Norwegia dan Aljazair, serta dalam jumlah jauh lebih kecil dari Rusia. Namun sebagian besar kebutuhan tersebut tetap harus dipenuhi melalui kargo LNG yang dikirim lewat kapal tanker.
