Bagaimana Jika Iran Potong Serat Optik di Selat Hormuz?

Ilustrasi: Google Gemini AI
Ilustrasi: Google Gemini AI
0 Komentar

SELAT Hormuz punya peran yang cukup sentral bagi perekonomian dunia. Selat yang berada di perbatasan Iran dengan Uni Emirat Arab itu, merupakan jendela ekonomi bagi negara-negara di Timur Tengah (Timteng) dengan dunia. Jika lumpuh, maka perekonomian jazirah Arab dan dunia, bakal terganggu.

Pengusaha sekaligus pelaku konten kreatif, Mardigu Wowiek Prasantyo yang akrab disapa Bossman Mardigu, menyebut, perang antara Iran yang dikeroyok Amerika Serikat (AS) dan Israel, sangat tak berimbang.

Dia pun menyebut kolaborasi AS dan Israel melawan Iran, merupakan bentuk perang asimetris. Atau perang yang beda bangunannya, antara apa yang dilakukan AS dan Israel, dibandingkan apa yang dilakukan Iran.

Baca Juga:Komdigi Tunda Akses Anak di Bawah Usia 16 Tahun ke Sejumlah Platform Digital Berisiko TinggiAnwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan Serius

“Misalnya, serangan rudal dibalas dengan rudal, itu perang simetris. Nah ini jelas perang asimetris,” terang Mardigu, dikutip dari akun Youtube @sontoloyopeople, Jumat (6/3/2026).

Dalam perang asimetris, Mardigu menyebut Iran cukup cerdik. Serangan sejumlah bandara di Timur Tengah (Timteng), bertujuan untuk melemahkan perekonomian dunia. Agar harga minyak melonjak, menciptakan krisis ekonomi dunia. “Dengan harapan, perekonomian Amerika bakal terguncang hebat,” kata Mardigu.

Selain itu, kata Mardigu, Iran menutup Selat Hormuz yang dikenal sebagai hub finance global. Atau jendela bagi berbagai transaksi keuangan yang menghubungkan Timteng dengan negara lain.

“Kawasan teluk merupakan hub finance global, tersimpan kabel serat optik di Selat Hormuz. Ini menyangkut 40 persen transaksi keuangan dunia yang melewati Selat Hormuz,” imbuhnya.

Ketika ada masalah dengan Selat Hormuz, maka transaksi keuangan global bakal ikut tersendat. Apalagi jika Iran jadi memotong serat optik di Selat Hormuz. Transaksi keuangan di berbagai negara bagai ambruk dalam sekejab.

‘Rencananya Iran akan memotong kabel optik di Selat Hormz tersebut. Bisa kacau kalau terjadi, transaksi keuangan sedunia mati. Mendadak QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), kita enggak bisa jalan. Transaksi online juga enggak jalan. Mendadak bisnis menggunakan sosial media, enggak jalan,” tegasnya.

Mardigu benar. Jika Iran memutus kabel internet bawah laut di Selat Hormuz, kira-kira, hampir separuh dunia digital, mengalami kelumpuhan. Internet menjadi perlahan. Sehingga tak bisa mengakses AI, Youtube, transaksi bank dan servis cloud terganggu. Orang yang bergantung kepada dunia digital, bakal susah bekerja.

0 Komentar