Kelompok oposisi Kurdi sendiri juga terpecah, memiliki sejarah ketegangan internal, perbedaan ideologi, serta agenda yang saling bersaing. Sejumlah pejabat pemerintahan Trump yang terlibat dalam diskusi dukungan tersebut mengaku memiliki kekhawatiran tentang motivasi kelompok-kelompok itu dalam membantu AS.
Para pejabat mempertanyakan apakah dinamika tersebut bisa membahayakan hubungan kerja sama AS-Kurdi, mengingat tingkat kepercayaan yang tinggi dibutuhkan dalam bentuk kolaborasi seperti ini.
“Mungkin tidak sesederhana orang Amerika meyakinkan pasukan proksi untuk bertempur atas nama mereka,” kata seorang pejabat pemerintahan Trump.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
“Anda berhadapan dengan sekelompok orang yang memikirkan kepentingan mereka sendiri, dan pertanyaannya adalah apakah melibatkan mereka sejalan dengan kepentingan mereka.”
Sejarah Panjang Hubungan AS-Kurdi
Bangsa Kurdi adalah kelompok etnis minoritas tanpa negara resmi. Saat ini diperkirakan terdapat 25-30 juta orang Kurdi yang sebagian besar tinggal di wilayah yang membentang di Turki, Irak, Iran, Suriah, dan Armenia.
Mayoritas Kurdi beragama Islam Sunni, tetapi populasi Kurdi memiliki tradisi budaya, sosial, agama, dan politik yang beragam serta berbagai dialek bahasa.
Banyak pejabat pemerintahan Trump secara tertutup memperingatkan tentang kekecewaan yang dirasakan pasukan Kurdi saat bekerja sama dengan AS di masa lalu, termasuk keluhan bahwa mereka merasa ditinggalkan oleh Washington.
“Ada kekhawatiran bahwa jika pemberontakan gagal dan AS menarik diri, hal itu akan menambah narasi tentang meninggalkan Kurdi,” kata Plitsas.
Mantan Menteri Pertahanan Trump, Jim Mattis, mengundurkan diri sebagian karena Trump memutuskan menarik pasukan AS dari Suriah pada masa jabatan pertamanya, langkah yang menurut Mattis merupakan pengabaian terhadap sekutu Kurdi di sana.
CIA sendiri memiliki sejarah panjang dan kompleks bekerja sama dengan faksi Kurdi Irak sejak puluhan tahun lalu sebagai bagian dari perang AS di Irak. Badan tersebut saat ini memiliki pos di Kurdistan Irak dekat perbatasan Iran, menurut dua sumber.
Baca Juga:Penemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada TerbelahBareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar Modal
AS juga memiliki konsulat di Erbil, ibu kota Kurdistan Irak, dan pasukan AS serta koalisi ditempatkan di sana sebagai bagian dari kampanye melawan ISIS.
Sebagian Kurdi sempat berharap bahwa kerja sama dengan pasukan AS akan berujung pada kemerdekaan wilayah semi-otonom Kurdistan Irak, namun hal itu tidak pernah terwujud.
