DUTA Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa negaranya tidak membuka negosiasi damai dengan Amerika Serikat (AS)- Israel yang telah menyerang negaranya dengan rudal. Hal itu sebagai bentuk respons atas tawaran upaya dialog damai yang hendak diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Usulan dari pemerintah Indonesia telah disampaikan. Kami ingin menyampaikan bahwa kami tidak ada negosiasi dalam bentuk apa pun dengan kaum musuh dari kami, dikarenakan kami sudah tidak percaya dengan yang namanya negosiasi,” kata Boroujerdi di rumah dinasnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (5/3/2026).
Dia beralasan Iran telah berupaya membangun diplomasi damai dengan AS melalui sejumlah perundingan. Namun, bukannya kesepakatan damai yang dicapai, justru serangan rudal dari AS-Israel yang didapat.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
“Dikarenakan kami telah tiga kali melakukan negosiasi dan hasilnya adalah di tengah atau di ujung dari negosiasi negara kami telah diserang. Dan untuk kali ini kami akan membereskan pihak musuh di lapangan perang,” jelasnya.
Boroujerdi menyampaikan alasan tertutupnya solusi damai dari negaranya dengan AS-Iran adalah sebagai bentuk perlindungan diri. Menurutnya, isu pengembangan nuklir untuk tujuan perang hanyalah fitnah yang digaungkan oleh AS-Israel beserta kroninya.
“Ironisnya adalah Amerika Serikat sedang berdampingan dengan sebuah rezim yang tidak pernah menjadi bagian dari traktat atau perjanjian internasional apa pun, telah terbukti sedang membangun senjata nuklir dan memiliki senjata nuklir,” ungkapnya.
“Dan telah terbukti melanggar seluruh peraturan internasional, menyerang sebuah negara seperti Republik Islam Iran, yang mana negara kami aktivitas nuklirnya berada di bawah pengawasan penuh dari Badan Internasional Tenaga Atom (IAEA),” jelasnya.
Boroujerdi menegaskan perang Iran melawan AS-Israel tidak sekadar adu senjata dan teknologi, tetapi kekuatan narasi yang disampaikan melalui corong media informasi.
“Tetapi perang ini memiliki dimensi yang lain juga, yaitu dimensi perang narasi. Di mana untuk melawannya kami memerlukan bantuan dari Anda semua untuk menyuarakan kebenaran, menyuarakan fakta yang terdapat di lapangan agar kita bisa mengalahkan pihak musuh yang terbukti memiliki tangan-tangan dan pengaruh yang besar khususnya dalam media sosial,” jelasnya.
