SITUASI terkini geopolitik di Timur Tengah mencapai titik didih paling ekstrem sepanjang sejarah modern. Pasca-serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada Sabtu (28/2), sebuah kotak pandora kini terbuka lebar.
Publik internasional kini mulai bertanya-tanya: benarkah tewasnya Khamenei adalah langkah awal Benjamin Netanyahu untuk mewujudkan obsesi lamanya, yakni ‘Israel Raya’?
Visi ekspansionis ini bukan sekadar isapan jempol. Di berbagai forum internasional, Netanyahu secara terbuka pernah memamerkan peta ‘Tanah yang Dijanjikan’. Sebuah peta provokatif yang menghapus batas-batas kedaulatan negara tetangga, mulai dari seluruh wilayah Palestina, Yordania, Lebanon, hingga merambah ke sebagian wilayah Suriah, Irak, Turki, Mesir, bahkan Arab Saudi.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Pengamat intelijen Bondhan W memberikan analisis tajam terkait situasi ini. Menurutnya, serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran menciptakan vakum kekuasaan yang sangat berbahaya. Tanpa adanya perimbangan militer dari Teheran, Israel berpotensi menjadi ‘polisi tunggal’ yang dominan secara absolut di kawasan Teluk.
“Kehancuran Iran akan memuluskan ambisi Israel Raya. Artinya, wilayah negara Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, Mesir, hingga Arab Saudi berisiko menjadi sasaran agresi militer lanjutan,” tegas Bondhan, Selasa (4/3).
Pernyataan ini seolah mengonfirmasi kekhawatiran negara-negara Arab. Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan Arab Saudi sebelumnya telah melayangkan protes keras terhadap publikasi peta palsu oleh Kementerian Luar Negeri Israel yang mengklaim asal-usul wilayah mereka berdasarkan narasi sejarah ribuan tahun silam.
Ketegangan ini sebenarnya memiliki akar yang dalam. Referensi paling awal tentang apa yang disebut ideologi ‘Israel Raya’ berasal dari Alkitab Ibrani, sebuah konsep yang kemudian digaungkan oleh pendukung utama ideologi fasis Zionisme, Theodor Herzl. Kemudian, menguat sejak Perang Enam Hari 1967. Hingga detik ini, Israel masih menolak untuk mundur dari wilayah pendudukan di Tepi Barat, Dataran Tinggi Golan, dan Lebanon Selatan.
Bahkan, pada Maret 2023, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich sempat memicu kemarahan diplomatik saat berpidato di Paris dengan latar belakang peta ‘Israel Raya’ yang mencaplok seluruh wilayah Yordania. Dengan kondisi Gaza yang kini hampir sepenuhnya berada di bawah kendali militer Israel, ambisi Netanyahu untuk memperluas garis perbatasan tampak tinggal menunggu momentum.
