REPUBLIK Islam Iran secara resmi memasuki era kepemimpinan baru. Majelis Ahli, lembaga yang beranggotakan 88 ulama senior, memilih Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara pada akhir Februari 2026.
Keputusan ini diambil di tengah tekanan berat dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Mengingat situasi keamanan nasional yang sedang terancam oleh serangan drone dan rudal Amerika Serikat serta Israel, IRGC mendesak Majelis Ahli untuk segera menetapkan pemimpin baru demi menjaga stabilitas komando militer.
Sosok Strategis di Balik Layar
Mojtaba Khamenei, yang kini berusia 56 tahun, bukanlah sosok baru dalam struktur kekuasaan Iran. Meskipun jarang muncul di publik dan tidak pernah memegang jabatan elektoral, ia lama dikenal sebagai figur paling berpengaruh di kantor Pemimpin Tertinggi.
Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza
Lahir di Mashhad pada 1969, Mojtaba menempa kredibilitasnya melalui jalur militer dan agama. Ia pernah bertugas di garis depan selama Perang Iran-Irak (1987) bersama Batalyon Habib. Setelah masa tugas militer, ia melanjutkan studi agama di Qom, pusat beasiswa Syiah terkemuka, untuk membangun fondasi teologis yang disyaratkan bagi seorang Pemimpin Tertinggi.
Tragedi Keluarga: Penunjukan Mojtaba terjadi di tengah duka nasional. Serangan udara pada 28 Februari lalu tidak hanya menewaskan Ali Khamenei, tetapi juga istri Mojtaba (Zahra Adel), ibunya, serta salah satu putranya.
Dukungan IRGC dan Konsolidasi Garis Keras
Para analis politik internasional menilai bahwa terpilihnya Mojtaba merupakan kemenangan bagi faksi garis keras. Kedekatannya dengan jaringan intelijen dan keamanan menjadikannya pilihan pragmatis bagi Iran yang saat ini sedang dalam kondisi siaga perang.
“Mojtaba adalah pilihan paling bijaksana saat ini karena dia sangat akrab dengan menjalankan dan mengoordinasikan aparat keamanan serta militer,” ujar analis berbasis Teheran, Mehdi Rahmati, sebagaimana dikutip dari The New York Times.
Pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi kepada Mojtaba dengan tuduhan bahwa ia menjalankan sebagian otoritas ayahnya secara tidak resmi. Penunjukan ini diprediksi akan semakin memperkeras sikap luar negeri Iran terhadap Barat.
Tantangan Legitimasi dan Isu Dinasti
