Arab Saudi: Amerika Serikat Tinggalkan Kami, Alihkan Pertahanan Udaranya Lindungi Israel

Kedutaan AS di Riyadh setelah terdengar suara ledakan dan terlihat kobaran api. (Google Earth via Reuters)
Kedutaan Amerika Serikat di Riyadh setelah terdengar suara ledakan dan terlihat kobaran api. (Google Earth via Reuters)
0 Komentar

ARAB Saudi kesal setelah Amerika Serikat disebut mengalihkan sistem pertahanan udara di Timur Tengah untuk melindungi Israel.

Seorang pejabat Saudi menilai langkah itu membuat negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS lebih rentan terhadap serangan Iran.

“AS meninggalkan kami dan mengalihkan pertahanan udaranya untuk melindungi Israel. Mereka membiarkan negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS menghadapi serangan Iran,” kata seorang pejabat Saudi yang memilih anonim, dikutip dari News 18.

Baca Juga:Anwar Ibrahim Kecam Pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei, Timur Tengah di Ambang Ketidakstabilan SeriusSurat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari Gaza

Di tengah eskalasi konflik, Qatar dan Arab Saudi pada Senin (2/3) menyatakan berhasil mencegat sejumlah drone Iran yang menargetkan pangkalan militer AS tanpa menimbulkan korban jiwa.

AFP mengutip Kementerian Pertahanan Qatar yang menyebut dua drone Iran menargetkan pembangkit listrik dan fasilitas energi di negara itu.

Salah satu drone diarahkan ke tangki air di pembangkit listrik Mesaieed di selatan Doha. Sementara drone lainnya menargetkan fasilitas energi di Ras Laffan di pesisir utara, yang merupakan pusat utama produksi gas alam cair Qatar.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan telah menargetkan kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan markas komandan angkatan udara Israel.

“Kantor perdana menteri kriminal rezim Zionis dan markas komandan angkatan udara rezim itu telah menjadi sasaran,” demikian pernyataan Garda Revolusi yang dikutip kantor berita Fars.

Sebelumnya, AS meluncurkan operasi militer besar terhadap Iran pada 28 Februari bertajuk Operation Epic Fury, yang menargetkan sejumlah fasilitas militer utama Iran.

Serangan itu menyasar lokasi rudal, pangkalan angkatan laut, serta area di dekat kantor Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.

0 Komentar