SEKITAR 150 siswi di sebuah sekolah putri di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran, terbunuh akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu (28/2/2026). Pemerintah Iran menyatakan bahwa Washington dan Tel Aviv telah melakukan kejahatan mengerikan.
“Serangan rezim Zionis terhadap sekolah di kota Minab membunuh 150-160 siswi kami, yang merupakan kejahatan mengerikan,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran, Esmail Baghaei, dilaporkan Iranian Students’ News Agency (ISNA).
Sebelumnya Gubernur Hormozgan, Mohammad Radmehr, mengonfirmasi kepada kantor berita Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), tentang adanya serangan AS-Israel ke sebuah sekolah putri di Kota Minab pada Sabtu. Sekolah tersebut adalah Shajareye Tayabeh.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Radmehr mengungkapkan, serangan AS-Israel seketika menyebabkan 57 siswi meninggal dan 60 lainnya luka-luka. Menurut Radmehr, terdapat 53 siswi yang masih tertimbun reruntuhan bangunan. Operasi penyelamatan dan bantuan tengah dilakukan guna mengevakuasi serta menyelamatkan mereka.
Pada Sabtu pagi, AS dan Israel melancarkan serangan udara gabungan ke sejumlah wilayah Iran. Agresi tanpa provokasi itu dilakukan setelah perundingan Washington dengan Teheran soal program nuklir Iran dilaporkan mengalami kebuntuan.
Dalam serangannya, AS dan Israel dilaporkan turut menargetkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Namun Menteri Luar Negeri Iran Abbas Aragchi mengatakan, Khamenei dan Pezeskhian dalam kondisi selamat.
Sebagai balasan, Iran telah meluncurkan serangan udara ke sejumlah pangkalan militer AS di Teluk. Tak hanya itu, mereka turut melancarkan serangan ke wilayah Israel. Iran menegaskan, mereka sepenuhnya siap meladeni dan merespons setiap serangan terhadapnya.
Sementara, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah memperingatkan tentang konsekuensi dari agresi baru terhadap Iran. Yakni, perang yang dipaksakan oleh AS dan Israel bukan hanya terhadap Republik Islam Iran, tetapi juga terhadap seluruh negara kawasan serta negara-negara Muslim.
Peringatan Araghchi disampaikan dalam percakapan telepon dengan mitranya dari Turki, Hakan Fidan. Ia menyatakan bahwa menjadi tanggung jawab seluruh negara Muslim dan negara-negara kawasan untuk menggagalkan rencana jahat Israel.
Panggilan telepon tersebut merupakan bagian dari konsultasi berkelanjutan Kementerian Luar Negeri dengan berbagai negara terkait perang agresi AS-Israel yang tidak beralasan terhadap Iran.
