Menurutnya, keterlibatan langsung Amerika Serikat mengubah kalkulasi. Jika sebelumnya Israel dapat bertindak unilateral dengan risiko regional terbatas, kini konflik ini membawa dimensi kekuatan adidaya. Artinya, ambang eskalasi menjadi jauh lebih tipis.
“Secara militer, tujuan operasi tampak jelas yakni melumpuhkan sistem rudal balistik, jaringan komando dan kontrol, serta infrastruktur militer yang dinilai mengancam Israel dan pangkalan AS di kawasan Teluk. Target yang lebih sensitif adalah program nuklir Iran isu yang selama ini menjadi sumber ketegangan utama,” ujarnya.
Secara geopolitik, kata dia, serangan ini adalah bentuk pemaksaan terhadap Iran agar menerima batasan yang sebelumnya gagal dicapai lewat diplomasi.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Sejarah menunjukkan tekanan militer eksternal sering kali memperkuat konsolidasi internal rezim, bukan melemahkannya. Serangan terhadap wilayah metropolitan seperti Teheran berisiko membangkitkan nasionalisme defensif di dalam negeri Iran,” paparnya.
Bondhan menyebut, risiko terbesar bukanlah serangan pertama tetapi respons berikutnya. Iran memiliki spektrum balasan yang luas, rudal balistik, drone jarak jauh, serangan siber, hingga aktivasi jaringan proksi di Lebanon, Irak, Suriah, dan Yaman.
“Jika kelompok seperti Hezbollah ikut terlibat, Israel akan menghadapi perang dua front. Jika pangkalan AS di Teluk diserang, Washington akan terdorong untuk memperluas operasi,” ucapnya.
Bondhan juga menegaskan konflik dapat berubah dari operasi terbatas menjadi perang regional yang melibatkan Levant dan Teluk Persia secara simultan. Di sinilah kalkulasi militer menjadi sangat kompleks. Serangan cepat mungkin berhasil secara taktis, tetapi tanpa strategi keluar yang jelas, operasi bisa berubah menjadi konflik berkepanjangan.
“Dampak paling cepat akan terasa di pasar energi. Ancaman terhadap Selat Hormuz — jalur vital ekspor minyak dunia — berpotensi memicu lonjakan harga energi global. Negara-negara pengimpor, termasuk di Asia, akan terdampak langsung,” katanya.
Secara diplomatik, kata dia, polarisasi global hampir tak terhindarkan. Rusia dan China kemungkinan mengecam operasi tersebut dan memperkuat dukungan politik kepada Iran. Negara-negara Arab Teluk akan berada dalam dilema mengkhawatirkan Iran, tetapi juga takut terhadap instabilitas kawasan.
