INGATAN dunia internasional masih hangat saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpidato di rapat perdana Board of Peace atau Dewan Perdamaian di AS. Dalam pidatonya, Trump berjanji memberikan masa depan cerah untuk Gaza Timur Tengah, dan seluruh dunia.
Namun, belum lagi tujuan itu menjadi kenyataan, kata Bondhan W, pengamat intelijen, Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran di bulan Ramadan. ” Hal Ini membuat kita bertanya-tanya tentang kredibilitas dan legitimasi Board of Peace, yang aktor utamanya justru membuka konflik besar yang baru di kawasan Timur Tengah,” katanya, Minggu (1/3).
Menurut Bondhan, perdamaian menjadi sesuatu yang sangat jauh, dan ini membuat forum internasional tersebut jadi tampak ironis. Amerika dan Israel, untuk kesekian kalinya, telah dengan sengaja menjadi aktor yang memulai peperangan. Jadi ini bukan hanya soal perlunya menahan diri dan melanjutkan negosiasi. Indonesia harus menunjukkan sikap tegas yang selalu berpihak pada perdamaian.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Di sinilah saya merasa Indonesia perlu menarik diri dari keanggotaan Board of Peace bentukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump karena pelanggaran kredibilitas dan legitimasi,” ia menegaskan.
Bondhan mengingatkan bahwa Presiden Prabowo Subianto pernah mengatakan bahwa Indonesia bisa saja keluar dari Board of Peace jika kemerdekaan Palestina tidak tercapai. Ia mempertanyakan Kementerian Luar Negeri Indonesia tidak mengecam serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran dan hanya menawarkan menjadi mediator negoisasi ulang.
“Untuk para diplomat kita, seharusnya menyampaikan pernyataan yang lebih keras. Serangan tanpa alasan kepada sebuah negara berdaulat adalah pelanggaran atas hukum internasional,” tutur dia.
“Amerika Serikat dan Israel, untuk kesekian kalinya, telah dengan sengaja menjadi aktor yang memulai peperangan. Jadi ini bukan hanya soal perlunya menahan diri dan melanjutkan negosiasi. Indonesia harus menunjukkan sikap tegas yang selalu berpihak pada perdamaian.”
Dalam amatan Bondhan, Selama bertahun-tahun, kata dia, konflik antara Israel dan Iran berlangsung dalam bentuk perang bayangan, seperti sabotase fasilitas nuklir, serangan siber, operasi intelijen, dan pertempuran tidak langsung melalui aktor proksi.
“Saat ini, fase itu telah berakhir. Serangan udara ke sekitar Teheran menandai eskalasi drastis. Ini bukan lagi pesan simbolik, melainkan demonstrasi kemampuan dan kemauan untuk menghantam pusat gravitasi politik dan militer Iran,” ujarnya.
