Pernyataan Lengkap Kedubes Iran di Indonesia Usai Meninggalnya Ayatollah Khamenei dalam Serangan AS-Israel

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (X)
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei (X)
0 Komentar

KEDUTAAN Besar (Kedubes) Iran di Indonesia menyampaikan pernyataan resmi pasca meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026).

Berikut pernyataan lengkapnya:

Pada jam-jam pertama, beberapa sekolah menjadi sasaran rudal Amerika Serikat dan rezim Zionis. Dalam serangan brutal tersebut, sebuah sekolah dasar di Kabupaten Minab hancur total dan hampir 200 anak perempuan tak berdosa mencapai kesyahidan. Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel mengklaim bahwa mereka akan membantu rakyat Iran.

Dengan dalih yang sama pula, mereka membajak protes damai rakyat Iran pada Januari 2026 menjadi kerusuhan yang penuh kekerasan. Kini terlihat bagaimana mereka “membantu” rakyat Iran: dengan serangan rudal terhadap perempuan dan anak-anak tak berdosa di sekolah dasar, klub olahraga, rumah-rumah penduduk, dan lainnya, terlebih lagi di bulan suci Ramadan. Amerika Serikat pada bulan Ramadan tahun 2003 juga mengklaim membantu rakyat Irak.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Sejak saat itu, yang diperoleh rakyat Irak tidak lain hanyalah kematian, kehancuran, dan penderitaan. Rakyat Libya dan Afghanistan pun telah merasakan “bantuan” Amerika. Intervensi dan agresi Amerika terhadap negara-negara lain tidak menghasilkan apa pun selain kematian dan kehancuran. Permusuhan Amerika terhadap Iran bukanlah hal baru dan berakar dalam tujuh dekade sejarah Iran.

Intervensi, agresi, dan permusuhan Amerika terhadap Iran dimulai dari kudeta 19 Agustus 1953 (28 Mordad 1332) yang menggulingkan pemerintahan Dr. Mohammad Mossadegh, Perdana Menteri Iran saat itu, dan berlanjut dengan tindakan-tindakan berikut:

  • Pemberlakuan sanksi politik dan ekonomi pada hari-hari awal kemenangan Revolusi Islam Iran tahun 1979, dengan tujuan menggagalkan revolusi yang menang atas kehendak rakyat Iran, tanpa penggunaan senjata apa pun.
  • Dukungan menyeluruh terhadap rezim Saddam Hussein dalam perang yang dipaksakan selama delapan tahun Irak melawan Iran (September 1980-Agustus 1988); dalam perang tersebut lebih dari 155.000 orang gugur dalam pertempuran langsung dan lebih dari 16.000 orang gugur akibat serangan rudal dan udara terhadap kota-kota.
  • Penembakan pesawat penumpang Airbus d i atas Teluk Persia pada Juli 1988 oleh kapal perang USS Vincennes milik Amerika Serikat, yang mengakibatkan gugurnya total 291 penumpang, termasuk 66 anak-anak.
  • Dukungan terhadap organisasi-organisasi teroris termasuk Organisasi Mujahidin Khalq (MKO) dalam pembunuhan luas terhadap warga sipil, pejabat politik dan militer, serta ilmuwan nuklir Iran sejak awal dekade 1980-an hingga kini; Iran dengan 17.000 korban teror merupakan korban terbesar terorisme di dunia.
  • Penciptaan terorisme dan ekstremisme dengan tujuan mengoperasionalkan proyek Islamofobia dan Iranofobia di kawasan dan dunia, selama dua dekade terakhir.
  • Peningkatan sanksi ekonomi terhadap Republik Islam Iran dengan dalih tidak berdasar sejak 2010, yang menimbulkan kesulitan ekonomi bagi rakyat Iran.
  • Pembunuhan salah satu komandan senior militer Iran atas perintah langsung Presiden Trump pada Januari 2020 di Baghdad; beliau berada di Irak atas undangan pejabat militer Irak.
  • Dukungan terhadap serangan rezim Zionis terhadap Konsulat Republik Islam Iran di Damaskus pada April 2024.
  • Dukungan terbuka terhadap serangan rezim Zionis ke pusat-pusat militer dan pertahanan Iran pada 26 Oktober 2024.
  • Dukungan terhadap serangan rezim Zionis ke Iran pada 13 Juni 2025, serta pembunuhan para komandan militer senior.
  • Serangan langsung Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir damai Republik Islam Iran pada 22 Juni 2025.
  • Membajak protes damai sipil menjadi kerusuhan penuh kekerasan pada Januari 2026, yang menyebabkan 2.427 orang gugur (termasuk penjaga keamanan dan warga sipil) dari total 3.117 korban jiwa.
0 Komentar