Paradoks Urgensi Reformasi Polri, Tamparan Keras Masyarakat Sipil 

Ketua Kagama Cirebon, Heru Subagia
Ketua Kagama Cirebon, Heru Subagia
0 Komentar

Saya selalu mengingatkan bahwa kejadian yang saat ini banyak melibatkan aksi-aksi yang senonoh yang tidak Etis dan melanggar HAM . Akhirnya ditemukan banyak korban dirasakan akibat beradu dengan kepolisian dan akhirnya menimbulkan korban jiwa kedua belah pihak.

Apa yang saat ini sedang terjadi di tubuh kepolisian itu sebenarnya terlilit atau terbelit juga masalah-masalah kronis dan kritis di penegak hukum lainnya.

Pihak Aparatur Pemerintah lainnya saling terkait dan mencepit dan organ-organ atau badan-badan yang ada di lingkungan pemerintah Republik Indonesia. Jadi bukan hanya menunjukkan institusi Polri yang di kultus harus dirubah tetapi dibalik layar, keseluruhan aparat penegak hukum harus disertakan.

Andil Masyarakat Sipil

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Yang terlupakan bahwa masyarakat juga ikut andil wacana dan impian terjadinya Reformasi Polri. Membuka kunci sebuah revolusi Polri ini juga akan merevolusi pemahaman bahwa tidaknya masyarakat ikut serta dan bertanggung jawab dan wajib berubah pola pikir dan tingkah laku dalam sebuah memahami besar yang mendasar.

Manakala kita melihat sebuah persekongkolan sebuah konspirasi jahat di mana terlibat praktik suap menyuap, mempraktik pesonggokolan yang lainnya, backing sebuah proyek membikin dengan melibatkan anggota polisi atau identitas kepolisian .

Jelaslah bagaimana masyarakat menikmati kedekatan dan manfaat dengan bersentuhan dengan institusi atau individu kepolisian. Artinya, serta-merta melibatkan dukungan dan juga ajakan bahkan sebuah provokasi-provokasi yang dilakukan oleh masyarakat sipil itu sendiri.

Tindakan Holistik

Mendapatkan kompleksitas dan penyertaan aktor dan pendukungnya, artinya saya melihat cara holistik kebutuhan dan urgensi revolusi kepolisian. Ini tidak hanya menyangkut dogma atau doktrin institusi dan aturan kelembagaan itu sendiri tetapi bagaimana menyangkut mentalitas dan integritas dengan sasarannya adalah masyarakat itu sendiri.

Kesimpulan akhir yakni tidak adanya keberhasilan secara utuh dan tuntas apa yang disebut dengan tuntutan masyarakat itu dilakukan reformasi atau revolusi di tubuh Polri tanpa adanya keterlibatan masyarakat secara sadar dan utuh.

Sangat jelas kebutuhan menyeluruh, saat ini sudah head to head atau berhadapan yakni masyarakat itu sendiri dan identitas Polri .

0 Komentar