Blokade Selat Hormuz Pelaku Pasar Minyak Industri Pelayaran Global Siaga: Tarif Sewa Kapal Tanker Naik Tajam

Tarif spot VLCC sudah melonjak 767% dan pada 27 Februari. (Bloomberg Intelligence)
Tarif spot VLCC sudah melonjak 767% dan pada 27 Februari. (Bloomberg Intelligence)
0 Komentar

SERANGAN militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tidak hanya memicu ketegangan politik. Kondisi ini juga mengguncang salah satu urat nadi terpenting perdagangan energi dunia, yakni Selat Hormuz.

Blokade Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons atas serangan AS-Israel langsung membuat pelaku pasar siaga. Bukan hanya pasar minyak, tetapi juga industri pelayaran global. Tarif sewa kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar (very large crude carrier/VLCC) pun melonjak tajam.

Melansir Bloomberg Intelligence, sepanjang tahun ini saja, tarif spot VLCC sudah naik 767% dari level terendahnya pada 6 Januari lalu, dan pada 27 Februari tercatat sekitar US$225.637 per hari, jauh di atas rata-rata titik impas industri yang hanya US$25.000–US$35.000 per hari.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Jika ketegangan berlanjut atau terjadi gangguan nyata pada pelayaran, tarif itu berpotensi mendekati rekor 2019 yaitu sebesar US$317.334 per hari.

Kenaikan ini bukan tanpa sebab. Sekitar 26% perdagangan minyak mentah dunia dan 20% gas alam cair (LNG) global melintasi jalur sempit ini setiap hari.

Secara nilai, arus minyak yang melewatinya mencapai sekitar US$600 miliar per tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di sana hampir pasti terasa hingga ke harga BBM, inflasi, dan biaya logistik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Secara geografis, Selat Hormuz memang tampak cukup lebar, sekitar 34 kilometer di pintu masuk Teluk Persia. Namun jalur pelayaran efektifnya ternyata jauh lebih sempit, hanya sekitar 3 kilometer untuk masing-masing arah.

Jalur ini menjadi satu-satunya pintu keluar ekspor minyak dari Iran, Irak, Kuwait, Qatar, dan Bahrain. Jika terjadi gangguan, opsi alternatifnya juga sangat terbatas.

Tarif spot VLCC sudah melonjak 767% dan pada 27 Februari. (Bloomberg Intelligence)Bagi operator kapal tanker, ini berarti lonjakan laba jangka pendek. Namun bagi konsumen energi global, kenaikan harga ini jadi alarm lonjakan biaya operasional yang dapat menekan margin.

Mengapa demikian? Sebab, biaya pengiriman adalah salah satu komponen harga akhir energi. Jika ongkos sewa kapal melonjak, harga minyak mentah cenderung ikut terdorong naik. Dan ketika harga minyak naik, dampaknya berantai: biaya transportasi meningkat, harga pangan bisa terdorong, dan tekanan inflasi menguat.

0 Komentar