Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ayatollah Ali Khamenei Selamat dari Serangan, Teheran Tak Tinggal Diam

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kiri) dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan). (Foto oleh
Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei (kiri) dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan). (Foto oleh KHAMENEI.IR / AFP)
0 Komentar

Dalam pernyataannya kepada Reuters, pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengungkapkan bahwa instruksi untuk melakukan pembalasan telah disiapkan. “Respons yang akan diberikan dipastikan bakal menghancurkan,” ujar pejabat tersebut, memberikan sinyal eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan.

Otoritas Penerbangan Sipil Iran resmi mengumumkan penutupan seluruh ruang udara negara tersebut hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil menyusul eskalasi militer yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026).

Juru bicara Organisasi Penerbangan Sipil Iran menyatakan bahwa kebijakan tersebut didasarkan pada Notice to Airmen (NOTAM) yang telah diterbitkan. Langkah ini memaksa pembatalan seluruh jadwal penerbangan komersial dan melarang lintasan pesawat asing demi alasan keamanan nasional.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Penutupan ruang udara ini terjadi di tengah laporan serangan rudal yang menghantam kawasan Jalan Universitas dan wilayah Jomhouri di Teheran. Sebagaimana dilaporkan kantor berita Fars, serangan tersebut dikonfirmasi sebagai operasi militer gabungan antara Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Padahal, upaya diplomasi intensif baru saja dilakukan dalam 12 jam terakhir. Menteri Luar Negeri Oman, yang bertindak sebagai mediator utama, sempat bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, di Washington untuk meredam konfrontasi. Namun, serangan tetap terjadi hanya dua hari setelah putaran terakhir negosiasi tidak langsung antara Teheran dan Washington.

Di sisi lain, Kedutaan Besar AS di Qatar telah menginstruksikan seluruh personel dan warga negaranya untuk berlindung di tempat (shelter-in-place). Sementara itu, militer Israel memberlakukan status “aktivitas esensial” di seluruh negeri, menutup sekolah dan membatasi kerumunan massal guna mengantisipasi serangan balasan.

0 Komentar