“Pendapat saya, terjadinya perang yang seolah diniscayakan itu, bisa iya, bisa tidak. Apalagi kalau para jenderal di kedua belah pihak, terus mengawal pengambilan keputusan para pemimpinnya. Trump dan Khamenei tidak akan gegabah dalam memerintahkan tentaranya untuk berperang. Terlalu tinggi risiko dan harga yang harus mereka bayar kalau keputusannya salah,” ucap SBY.
Lebih lanjut, SBY membeberkan sejumlah catatan bagi seorang pemimpin komando dalam mengambil jalan perang guna memenuhi kepentingan nasionalnya. Pertama, kata SBY, apakah perang itu harus dilaksanakan atau masih ada opsi yang lain.
“Inilah yang sering disebut ‘war of necessity’ dan ‘war of choice’. Pada akhirnya, kedua belah pihak akan menentukan berperang atau menempuh jalan lain,” ujarnya.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Kedua, negara siap berperang kalau kalkulasi rasionalnya menjamin bahwa perang dapat dimenangkan. Menurut SBY, baik Trump maupun Khamenei harus bisa meyakinkan dirinya sendiri dengan menggunakan logika dan akal sehatnya bahwa perang yang dipilih memang akan bisa dimenangkan.
“Karena perang terkait dengan nasib dan masa depan rakyat yang dipimpinnya, yang memberikan mandat dan kepercayaan, suara mereka mesti didengar. Pertimbangan dan saran para jenderal dan petinggi militer juga mesti diindahkan, jangan terkubur dengan ego pemimpin yang kelewat tinggi,” katanya.
SBY menilai bagi Amerika yang terus sesumbar akan menghancurkan Iran, perlu dipikirkan dalam-dalam sebelum mengambil keputusan untuk berperang.
“Maksud saya, jangan-jangan bagi Amerika menang perangnya sulit dicapai, kemudian ‘exit’ atau mengakhiri peperangan juga tidak mudah dilakukan. Ingat kembali pengalaman pahit ketika melakukan peperangan di Vietnam, Irak dan Afghanistan. Ingat, Iran adalah Iran. Iran bukan Irak dan bukan Afghanistan,” ucapnya.
Terakhir, SBY menyampaikan pesan yang bukan hanya untuk Presiden Trump dan Ayatullah Khamenei, tetapi juga untuk seluruh pemimpin politik di dunia yang di tangannya ada sebuah tombol untuk memulai peperangan. Begini pesannya:
Para perwira dan para prajurit itu juga punya jiwa, punya keyakinan, punya akal sehat, dan tentunya punya harapan. Kalau soal berkorban untuk nusa dan bangsa, tentara selalu siap mengorbankan jiwa dan raganya. Hal itu tidak perlu diragukan. Selama 30 tahun saya mengabdi di dunia militer, lima tahun saya pernah bertempur untuk Sang Merah Putih. Namun, sukses sebuah peperangan juga ditentukan oleh apa yang ada dalam hati dan pikiran para prajurit. Ada kalimat indah yang mesti diingat oleh para pemimpin politik – presiden atau perdana menteri – ‘Soldiers will not fight and die, unless they know what they fight and die for” (Prajurit tidak bertempur dan siap untuk mati, kecuali mereka tahu untuk apa mereka bertempur dan mati).
