Mengapa Anak di Bawah Umur Nekat Mencicipi Alkohol?

Ilustrasi: id.pinterest
Ilustrasi: id.pinterest.com
0 Komentar

FENOMENA anak di bawah umur yang mengonsumsi alkohol bukan sekadar kenakalan remaja biasa, melainkan sebuah sinyal peringatan dari kondisi psikologis dan lingkungan mereka.

Di balik segelas minuman keras yang mereka genggam, sering kali terdapat rasa ingin tahu yang besar, tekanan teman sebaya, hingga upaya untuk mencari identitas diri.

Secara psikologis, masa remaja adalah periode “mencari badai,” di mana otak bagian depan (prefrontal cortex) yang berfungsi sebagai pengendali logika dan pengambilan keputusan belum berkembang sempurna, sementara pusat emosi mereka sedang meledak-ledak.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Hal ini membuat mereka cenderung impulsif dan kesulitan melihat konsekuensi jangka panjang dari kerusakan saraf yang bisa ditimbulkan oleh alkohol pada otak yang masih berkembang.

Salah satu teori psikologi yang paling relevan untuk membedah fenomena ini adalah Teori Pembelajaran Sosial (Social Learning Theory) dari Albert Bandura.

Teori ini menjelaskan bahwa perilaku manusia, termasuk kebiasaan minum alkohol, sebagian besar dipelajari melalui pengamatan dan peniruan terhadap lingkungan sekitar.

Anak-anak tidak tumbuh di ruang hampa; mereka melihat bagaimana orang dewasa di sekitar mereka merayakan sesuatu dengan alkohol, atau bagaimana media menggambarkan minuman keras sebagai simbol “keren,” dewasa, dan bebas dari stres.

Ketika seorang anak melihat model (orang tua, kakak, atau influencer) mendapatkan penguatan positif seperti terlihat lebih bahagia atau diterima di lingkungan sosial setelah minum maka anak tersebut akan meniru perilaku tersebut dengan harapan mendapatkan hasil sosial yang sama.

Selain faktor lingkungan, alkohol sering kali dijadikan sebagai mekanisme koping (coping mechanism) yang salah bagi anak-anak yang mengalami tekanan mental.

Dalam perspektif psikologi perkembangan, anak yang merasa tidak didengarkan di rumah atau mengalami kegagalan di sekolah mungkin beralih ke alkohol untuk “mematikan” emosi negatif mereka untuk sementara. Tanpa pendampingan yang tepat, pola ini akan menetap hingga dewasa dan merusak struktur kepribadian mereka.

Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena

Oleh karena itu, pendekatan terbaik bukanlah sekadar memberikan hukuman, melainkan membangun komunikasi yang empatik, memberikan edukasi mengenai cara mengelola emosi yang sehat, dan memastikan bahwa lingkungan terdekat mereka tidak memberikan contoh “normalisasi” terhadap konsumsi alkohol di usia dini.

0 Komentar