Mengapa Anak Butuh Validasi, Bukan Sekadar Solusi?

Keluarga Icasia Kleantha Wijaya
Keluarga Icasia Kleantha Wijaya
0 Komentar

SERINGKALI saat anak pulang sekolah sambil menangis karena diejek temannya, respons spontan kita sebagai orang dewasa adalah memberikan solusi kilat: “Ya sudah, besok jangan main sama dia lagi,” atau malah memintanya berhenti menangis dengan kalimat, “Masa begitu saja nangis? Kamu harus kuat, dong!” Niatnya memang baik, yaitu ingin anak segera bangkit.

Namun, tahukah Anda bahwa bagi anak, solusi tanpa validasi justru terasa seperti penolakan terhadap perasaan mereka? Anak tidak merasa terbantu; mereka justru merasa “salah” karena memiliki perasaan sedih atau kecewa tersebut.

Fenomena ini berkaitan erat dengan Teori Attachment (Kelekatan) yang dikembangkan oleh John Bowlby. Teori ini menjelaskan bahwa anak-anak membutuhkan “pangkalan aman” (secure base) untuk memahami emosi mereka.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Ketika orang tua memberikan validasi, mereka sebenarnya sedang membangun fondasi keamanan emosional tersebut.

Validasi adalah pengakuan bahwa perasaan anak itu nyata dan masuk akal. Tanpa validasi, anak akan tumbuh dengan keraguan terhadap insting mereka sendiri, yang di masa depan bisa memicu kesulitan dalam mengelola emosi atau rasa percaya diri yang rendah.

Memvalidasi perasaan anak bukan berarti kita memanjakan atau setuju dengan perilaku buruk mereka.

Validasi hanyalah cara kita mengatakan, “Ayah/Ibu mengerti kenapa kamu merasa begitu.” Bayangkan jika Anda sedang stres berat karena pekerjaan, lalu pasangan Anda hanya menjawab, “Ya cari kerja lain saja.”

Menyebalkan, bukan? Anak-anak pun merasakan hal yang sama. Mereka butuh didengarkan terlebih dahulu agar sistem saraf mereka tenang. Baru setelah emosinya stabil, logika mereka bisa “terbuka” untuk menerima nasihat atau solusi yang kita berikan.

Sebagai contoh lain coba bayangkan anak Anda menangis karena diejek. Alih-alih berkata “Jangan cengeng,” cobalah duduk sejajar dengannya dan katakan: “Ayah/Ibu mengerti, rasanya pasti sedih dan kesal ya diperlakukan begitu. Tidak apa-apa kalau mau menangis dulu.”

Setelah ia tenang dan merasa dimengerti, barulah ajak ia berdiskusi: “Sekarang, menurutmu apa yang bisa kita lakukan supaya besok kamu merasa lebih berani?” Dengan memvalidasi dulu, Anda membantu menstabilkan emosinya sebelum otaknya siap menerima solusi.

0 Komentar