KETEGANGAN kembali terjadi antara Pakistan dan Afghanistan setelah kedua negara terlibat aksi saling serang di sepanjang perbatasan yang dikenal sebagai Durand Line. Apa penyebabnya?
Konflik terbaru ini bermula pada Kamis (26/2) malam, ketika militer Taliban Afghanistan meluncurkan serangan ke sejumlah posisi militer Pakistan di beberapa titik perbatasan.
Pemerintah di Kabul menyatakan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas pemboman yang dilakukan Pakistan beberapa hari sebelumnya terhadap lokasi yang disebut sebagai kamp militan di wilayah Afghanistan, yang menurut klaim Afghanistan menewaskan sedikitnya 18 orang.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
Sebagai respons, pada Jumat dini hari Pakistan melancarkan operasi militer bernama “Ghazab Lil Haqq” atau “Operation Righteous Fury.”
Serangan udara Pakistan menghantam beberapa wilayah penting di Afghanistan, termasuk ibu kota Kabul, Provinsi Paktia di tenggara, dan Kandahar, yang dikenal sebagai tempat lahirnya gerakan Taliban dan basis pemimpin tertinggi mereka, Hibatullah Akhundzada.
Pemerintah Pakistan menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan fasilitas pertahanan Taliban, menandai peningkatan signifikan dalam strategi balasan Islamabad.
Kronologi Hubungan Pakistan dan Afghanistan Memanas
Ketegangan Pakistan dan Afghanistan Terjadi Sejak 1947
Hubungan antara Pakistan dan Afghanistan sudah diwarnai ketegangan sejak Pakistan berdiri pada tahun 1947. Kedua negara berbatasan langsung melalui garis perbatasan panjang yang dikenal sebagai Durand Line.
Meskipun masyarakat di kedua sisi memiliki kesamaan agama dan budaya, faktor geopolitik sering kali membuat hubungan keduanya tidak stabil.
Masa Invasi Uni Soviet 1979
Situasi semakin rumit ketika Afghanistan mengalami invasi Uni Soviet pada 1979, yang kemudian diikuti oleh intervensi Amerika Serikat pada 2001 setelah serangan 11 September, melansir laman The Geopolitics.
Perang melawan terorisme yang dipimpin AS terhadap Al-Qaeda dan Taliban berlangsung selama dua dekade, hingga akhirnya pada 2021 Amerika Serikat menarik pasukannya dan kekuasaan kembali diambil alih oleh Taliban Afghanistan.
Kelompok Militan Menguat Setelah Amerika Serikat Hengkang
Baca Juga:Bareskrim Geledah Kantor PT Shinhan Sekuritas Terkait Kasus Tindak Pidana Pasar ModalPrabowo: Ada Simulasi Bila Terjadi Perang Dunia III, Kita Tidak Terlibat Pasti Kena
Penarikan pasukan AS membawa dampak besar bagi kawasan, terutama bagi Pakistan. Setelah Taliban kembali berkuasa di Kabul, kelompok militan Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP) kembali menguat.
TTP merupakan kelompok bersenjata yang menentang pemerintah Pakistan dan memiliki jaringan serta tempat berlindung di wilayah perbatasan Afghanistan.
