DUNIA akademik kembali diguncang dampak perilisan dokumen terkait mendiang terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein. Terbaru, Dr. Richard Axel, seorang ahli biologi molekuler dan pemenang Hadiah Nobel, mengumumkan pengunduran dirinya dari kursi pimpinan institut neurosains bergengsi di Columbia University.
Axel, yang telah mengabdi di Columbia selama 53 tahun, melepaskan jabatannya sebagai kodirektur Zuckerman Mind Brain Behavior Institute. Dalam pernyataan resminya pada Selasa waktu setempat, ia mengaku ingin kembali fokus pada penelitian dan mengajar di laboratorium pribadinya.
Penyesalan mendalam disampaikan Axel, terkait hubungan masa lalunya dengan Epstein yang terungkap dalam dokumen setebal lebih dari 3 juta halaman yang baru-baru ini dirilis ke publik.
Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah
“Hubungan masa lalu saya dengan Jeffrey Epstein adalah kesalahan penilaian yang serius, yang sangat saya sesali. Saya meminta maaf karena telah mengompromikan kepercayaan teman-sama, mahasiswa, dan kolega saya,” tulis Axel.
“Apa yang muncul mengenai perilaku mengerikan Epstein dan kerugian yang ia timbulkan pada begitu banyak orang, membuat hubungan saya dengannya terasa semakin menyakitkan dan tidak dapat dimaafkan.”
Jejak Komunikasi Selama Sembilan Tahun
Berdasarkan laporan Columbia Spectator, nama Axel muncul lebih dari 900 kali dalam dokumen-dokumen tersebut. Korespondensi antara keduanya terjalin setidaknya selama sembilan tahun, terhitung sejak 2010 hingga 2019. Hal yang paling disoroti adalah hubungan ini tetap berlanjut setelah Epstein divonis bersalah atas kasus prostitusi anak pada tahun 2008.
Dokumen tersebut juga mengungkap adanya tiket perjalanan satu arah ke St. Thomas, Kepulauan Virgin, pada Desember 2011 untuk Axel dan istrinya. Wilayah tersebut biasanya menjadi titik transit menuju pulau pribadi Epstein, Little St. James. Namun, tiket tersebut kemudian dibatalkan dan pihak universitas mengonfirmasi bahwa Axel maupun istrinya tidak pernah mengunjungi pulau tersebut.
Respons Columbia UniversityMeskipun menyetujui keputusan pengunduran diri tersebut, pihak Columbia University menegaskan mereka tidak menemukan bukti pelanggaran kebijakan universitas maupun hukum yang dilakukan Dr. Axel.
Pihak universitas menyatakan tetap mengakui kontribusi luar biasa Axel bagi institusi, mahasiswa, dan dunia sains. Sebagai informasi, Axel memenangkan Hadiah Nobel Kedokteran tahun 2004 atas penelitiannya mengenai gen yang memungkinkan manusia mendeteksi lebih dari 10.000 jenis aroma.
