Mantan Pilot Tempur Angkatan Udara Amerika Serikat Ditangkap, Gerald Brown Diduga Latih Militer Tiongkok

Gerald Eddie Brown Jr. (Clark County Sheriff’s Office)
Gerald Eddie Brown Jr. (Clark County Sheriff’s Office)
0 Komentar

DEPARTEMEN Kehakiman Amerika Serikat mengumumkan penangkapan mantan pilot tempur Angkatan Udara, Gerald Brown yang diduga melatih pilot Tiongkok.

Pengumuman diutarakan pada Rabu, 25 Februari 2026 saat Brown ditangkap di Indiana setelah kembali dari Tiongkok, tempat ia berada sejak Desember 2023.

Menurut pernyataan resmi, Brown diduga bersekongkol dengan warga negara asing untuk memberikan pelatihan pesawat tempur kepada pilot Angkatan Udara Tiongkok tanpa izin dari Kementerian Luar Negeri AS. Tindakan tersebut melanggar ketentuan lisensi ekspor pertahanan.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), Kash Patel, menyatakan melalui media sosial bahwa pihaknya telah menangkap mantan pilot yang diduga melatih militer Tiongkok. Ia menyebut kasus ini sebagai peringatan serius terhadap ancaman keamanan nasional.

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis 26 Februari 2026, Brown memiliki karier 24 tahun di Angkatan Udara AS dan pernah memimpin unit sensitif terkait sistem pengiriman senjata nuklir. Setelah pensiun pada 1996, ia bekerja sebagai pilot kargo dan kemudian menjadi kontraktor pertahanan yang melatih pilot mengoperasikan pesawat A-10 dan F-35.

Ia diduga mulai merundingkan kontrak pada Agustus 2023 dengan Stephen Su Bin, warga negara Tiongkok yang sebelumnya dipenjara di AS dalam kasus spionase. Brown kemudian berangkat ke Tiongkok pada Desember 2023 untuk memulai pekerjaan pelatihan tersebut.

Pejabat Divisi Kontraintelijen dan Spionase FBI, Roman Rozhavsky, menyatakan pemerintah Tiongkok terus memanfaatkan keahlian mantan personel militer AS untuk memodernisasi kemampuan militernya.

“Penangkapan ini menjadi peringatan bahwa FBI dan mitra kami akan meminta pertanggungjawaban siapa pun yang bekerja sama dengan musuh dan membahayakan keamanan nasional,” ujar Rozhavsky.

0 Komentar