Kuba Tembak Mati 4 Orang di Atas Kapal Cepat Terdaftar Asal Amerika Serikat

Kapal penjaga pantai Kuba berlabuh di pelabuhan Havana pada 25 Februari 2026. (AFP/Adalberto Roque)
Kapal penjaga pantai Kuba berlabuh di pelabuhan Havana pada 25 Februari 2026. (AFP/Adalberto Roque)
0 Komentar

PADA Selasa, 24 Februari, Pemerintah Kuba melaporkan bahwa pasukannya telah menembak mati empat orang di atas sebuah kapal cepat terdaftar asal Amerika Serikat (AS).

Insiden ini terjadi setelah kapal tersebut memasuki perairan teritorial Kuba dan melepaskan tembakan ke arah kapal patroli penjaga pantai.

Kementerian Dalam Negeri Kuba mengatakan bahwa enam orang lainnya di atas kapal tersebut mengalami luka-luka. Selain itu, komandan kapal patroli Kuba juga dilaporkan terluka dalam baku tembak tersebut.

Baca Juga:Surat Kabar Yahudi Israel Hayom: Netanyahu Temui Trump Lobi Upaya Migrasi Massal Warga Palestina dari GazaPenemuan Mayat di Pesisir Danau Tempe: Tanpa Busana, Kepala Sudah Tak Ada dan Dada Terbelah

Seluruh korban luka telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis, sementara penyelidikan mendalam tengah dilakukan untuk memastikan kronologi kejadian. Menurut otoritas Kuba, kapal cepat yang terdaftar di Florida tersebut berada dalam jarak satu mil laut dari saluran di Falcones Cay, pantai utara Kuba, saat didekati oleh unit patroli.

Awak kapal cepat tersebut kemudian melepaskan tembakan terlebih dahulu yang melukai komandan kapal Kuba sebelum akhirnya dibalas oleh petugas. Meski identitas para korban belum dirilis, pemerintah Kuba telah menyerahkan nomor registrasi kapal asal Florida tersebut kepada pihak terkait sebagai bagian dari transparansi identifikasi.

“Tidak ada personel pemerintah AS yang terlibat dalam insiden tersebut. Washington sedang melakukan verifikasi independen untuk memastikan apakah para korban merupakan warga negara AS,” ujar Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, seperti dikutip dari Anadolu, Kamis 26 Februari 2026.

Di sisi lain, Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, memerintahkan pembukaan penyelidikan terpisah dengan menggandeng penegak hukum federal. Anggota Kongres AS asal Florida, Carlos Gimenez, menyebut insiden ini sebagai pembantaian dan menuntut investigasi mendesak untuk menentukan status kewarganegaraan para korban.

Insiden berdarah ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dan Kuba di bawah pemerintahan Donald Trump. Sebelumnya, kedua negara sempat bekerja sama dalam pemberantasan penyelundupan narkoba, namun kolaborasi tersebut kini telah dihentikan sepenuhnya.

Kuba menegaskan komitmennya untuk melindungi perairan teritorialnya sebagai pilar fundamental pertahanan nasional. Sementara itu, AS terus memperketat tekanan ekonomi, termasuk memblokir hampir seluruh pengiriman minyak ke pulau tersebut, yang semakin memperburuk hubungan diplomatik kedua negara.

0 Komentar